Feeds:
Posts
Comments

Erwin Wirawan: Bahasa Indonesia adalah Milik Malaysia

melaka4Tari Pendet memang berasal dari Indonesia. Reog, batik, angklung dan lagu Rasa Sayange adalah juga berasal dari Indonesia. Namun tanpa disadari bahasa Indonesia, bahasa nasional kita adalah berasal dari Malaysia!

Mungkin ada argumentasi bahwa sebagian bangsa Indonesia dari dulu juga menggunakan bahasa Melayu. Argumentasi ini sangat lemah ditinjau dari sisi jumlah pemakai, maupun asal usul suku Melayu di Indonesia.

Sebelum bahasa Indonesia dipergunakan secara luas, hanya ada tiga daerah di Indonesia yang memakai bahasa Melayu, yaitu: suku Melayu di Sumatera Utara, suku Melayu di pulau-pulau di sekitar Riau, dan suku Melayu di Kalimantan Barat. Dan sampai sekarang di ketiga daerah ini masih menggunakan bahasa yang mirip dengan bahasa Melayu di Malaysia. Jadi jika dibandingkan dengan dengan jumlah populasi Indonesia keseluruhan, prosentase populasi suku Melayu di Indonesia adalah sangat kecil.

Dan fakta-fakta lain juga menunjukkan bahwa nenek moyang suku Melayu di Indonesia adalah berasal dari Malaysia. Yang paling menyolok dapat dilihat dari perbedaaan besar budaya antara suku Melayu di Kalimantan Barat dan Sumatera Utara yang sangat berbeda dengan suku asli setempat, yaitu Dayak dan Batak yang tinggal lebih lama di daerah tersebut. Ini menunjukkan suku Melayu adalah pendatang di tempat tersebut. Sementara itu suku Melayu di pulau-pulau sekitar Riau adalah juga berasal dari Malaysia. Suku Melayu di Malaysia terletak di pulau utama (mainland), sedangkan suku Melayu di Riau tinggal di pulau-pulau kecil di sekitar pulau utama. Logika yang masuk akal adalah orang-orang di pulau-pulau kecil itu adalah orang-orang yang berasal dari pulau utama dan bukan sebaliknya.

Argumentasi lain mungkin menyebutkan bahasa Melayu bukan hanya bahasa suku, tapi juga bahasa perdagangan (lingua franca). Sejak dulu bahasa yang digunakan secara luas di masyarakat yang berhubungan secara ekonomi.

Tentu saja argumen tersebut tidak bisa diterima. Andaikan batik sudah mendunia sebagai tren busana internasional. Nelson Mandela tokoh besar dari Afrika Selatan juga suka memakai batik. Cina juga mulai memproduksi batik. Lalu apakah negara-negara tersebut bisa membuat klaim kepemilikan batik? Tentu saja tidak.

Jadi kita harus mengakui bahwa bahasa Indonesia adalah berasal dari bahasa Melayu Malaysia. Bahasa ini terbukti sangat berguna bagi pembentukan bangsa Indonesia. Dan sejak tahun 1928, bangsa ini sudah melakukan klaim terhadap bahasa yang diciptakan suku Melayu Malaysia sebagai bahasa pemersatu. Bahkan yang lebih gawat, Malaysia hanya membuat klaim kepemilikan produk budaya melalui promosi wisata, sementara bangsa Indonesia membuat klaim kepemilikan bahasa Melayu melalui Undang-Undang Dasar 1945.

Jika Indonesia terus berteriak Malaysia sebagai maling budaya, bagaimana kalau mereka berteriak balik bahwa bangsa kita adalah maling bahasa?

* * *

Suatu sumber menyebutkan bahwa Malaysia merasa budaya-budaya dari Indonesia tersebut adalah berasal dari tanah Melayu yang meliputi wilayah Indonesia juga. Jadi produk budaya yang dibuat di Indonesia dianggap sebagai produk budaya bangsa serumpun.

Dalam pergaulan antar bangsa yang telah berlangsung ratusan hingga ribuan tahun, selalu terjadi interaksi. Pemakaian produk budaya bangsa lain sudah biasa terjadi. Dari hasil interaksi itulah banyak produk budaya hibrida kemudian diciptakan.

Adikarya bangsa Indonesia seperti wayang mendapat sumbangan cerita seru Mahabarata dan Ramayana dari bangsa India. Bahkan lagu Rasa Sayange yang berasal dari Indonesia itu mengadopsi pantun Melayu dari Malaysia.

Lalu apakah pemakaian budaya harus meminta ijin? Ini pertanyaan sulit. Apakah bangsa Jepang dulu meminta ijin bangsa Cina waktu mengembangkan permainan Go dan seni tanaman bonsai? Apakah bangsa Indonesia pernah meminta ijin kepada bangsa India atas pemakaian cerita Mahabarata dan Ramayana tersebut? Apakah bangsa Indonesia pernah meminta ijin kepada bangsa Malaysia atas pemakaian produk bahasanya?

Tampaknya bangsa Indonesia harus merelakan budayanya dipakai bahkan mungkin dikembangkan di negara lain.

Sumber: http://erwinwirawan.blogspot.com/2009/08/bahasa-indonesia-adalah-milik-malaysia.html

ticc

Herewith the result of the Competition.
KATEGORI Children Choir
No. Reg. PADUAN SUARA NILAI TITLE
T9-021 Bitung Student Singers 85,50 CHAMPION OF THE CATEGORY
T9-035 Gema Sangkakala Children Choir 75,75 SILVER MEDAL
T9-036 Musafir Children Choir 71,00 SILVER MEDAL
T9-047 Samrat boulevard Children Choir 70,75 SILVER MEDAL
T9-043 Tomohon Children Choir 69,25 SILVER MEDAL

KATEGORI Youth Choir
No. Reg. PADUAN SUARA NILAI TITLE
T9-030 Gema Sangkakala Youth Choir 83,25 CHAMPION OF THE CATEGORY
T9-020 Bitung Youth Choir 81,00 GOLD MEDAL
T9-018 Serafim Choir 72,75 SILVER MEDAL
T9-014 SMANSA Choir (SMA Negeri 1 Balikpapan) 72,75 SILVER MEDAL
T9-042 Sojourner Chorale 66,75 SILVER MEDAL
T9-055 North Sulawesi Academy Choir 65,00 SILVER MEDAL
T9-029 GMIM Syalom Karombasan Youth Choir 63,00 SILVER MEDAL
T9-048 Al Chorte (Al Azhar BSD) 57,75 BRONZE MEDAL

KATEGORI Female Choir
No. Reg. PADUAN SUARA NILAI TITLE
T9-045 Tomohon Christian Female 71,25 SILVER MEDAL

KATEGORI Male Choir
No. Reg. PADUAN SUARA NILAI TITLE
T9-031 Gema Sangkakala Male Choir 82,50 CHAMPION OF THE CATEGORY
T9-006 Male Choir PKB GPIB Maranatha Balikpapan 68,00 SILVER MEDAL
T9-053 Kolam Bethesda Male Choir 67,50 SILVER MEDAL
T9-033 GMIM Lahairoi Male Choir 64,00 SILVER MEDAL
T9-025 Solagratia Male Choir 64,00 SILVER MEDAL
T9-022 Imanuel Bahu Male Choir 64,00 SILVER MEDAL
T9-046 Tondano Male Choir 61,00 SILVER MEDAL
T9-049 Nafiri Male Choir 55,00 BRONZE MEDAL

KATEGORI Gospel & Spritual
No. Reg. PADUAN SUARA NILAI TITLE
T9-019 Bitung City Chorale 89,50 CHAMPION OF THE CATEGORY
T9-030 Gema Sangkakala Youth Choir 87,75 GOLD MEDAL
T9-005 Mazmur Chorale 84,25 GOLD MEDAL
T9-007 Ekklesia Choir 79,00 SILVER MEDAL
T9-054 Calvary Singers 71,25 SILVER MEDAL
T9-003 Betel Kembuan Choir Tondano 62,00 SILVER MEDAL
T9-029 GMIM Syalom Karombasan Youth Choir 60,75 SILVER MEDAL
T9-013 PSM Universitas Kristen Indonesia 57,75 BRONZE MEDAL

KATEGORI Senior Mixed Choir
No. Reg. PADUAN SUARA NILAI TITLE
T9-056 Fungsional Maranatha Kakaskasen 46,75 BRONZE MEDAL
T9-052 Fungsional Lansia Sion Wioi 44,75 BRONZE MEDAL

KATEGORI Mixed Choir
No. Reg. PADUAN SUARA NILAI TITLE
T9-015 University of the Visayas Chorale 89,00 CHAMPION OF THE CATEGORY
T9-032 Putri Sion 82,00 GOLD MEDAL
T9-019 Bitung City Chorale 80,25 GOLD MEDAL
T9-009 Ganta Sakatik 72,00 SILVER MEDAL
T9-028 Miracle Choir 71,00 SILVER MEDAL
T9-007 Ekklesia Choir 70,25 SILVER MEDAL
T9-011 PS Gema Taman Khatulistiwa 66,75 SILVER MEDAL
T9-054 Calvary Singers 65,00 SILVER MEDAL
T9-023 Syaloom Chorale 55,25 BRONZE MEDAL
T9-013 PSM Universitas Kristen Indonesia 54,75 BRONZE MEDAL
T9-024 Voice of Glory 52,25 BRONZE MEDAL
T9-001 Gita Serafica 50,75 BRONZE MEDAL
T9-026 Mitra Blessing Choir 47,75 BRONZE MEDAL

KATEGORI Musica Sacra
No. Reg. PADUAN SUARA NILAI TITLE
T9-015 University of the Visayas Chorale 84,75 CHAMPION OF THE CATEGORY
T9-027 Manado State University Choir 80,00 GOLD MEDAL
T9-031 Gema Sangkakala Male Choir 71,75 SILVER MEDAL
T9-054 Calvary Singers 70,75 SILVER MEDAL
T9-008 Isen Mulang II Choir 69,50 SILVER MEDAL
T9-033 GMIM Lahairoi Male Choir 67,75 SILVER MEDAL
T9-013 PSM Universitas Kristen Indonesia 45,75 BRONZE MEDAL

KATEGORI Folklore
No. Reg. PADUAN SUARA NILAI TITLE
T9-027 Manado State University Choir 89,50 CHAMPION OF THE CATEGORY
T9-009 Ganta Sakatik 82,00 GOLD MEDAL
T9-005 Mazmur Chorale 81,50 GOLD MEDAL
T9-006 Male Choir PKB GPIB Maranatha Balikpapan 73,25 SILVER MEDAL
T9-008 Isen Mulang II Choir 72,00 SILVER MEDAL
T9-012 Glorificamus Dei 71,00 SILVER MEDAL

KATEGORI Pop & Jazz
No. Reg. PADUAN SUARA NILAI TITLE
T9-015 University of the Visayas Chorale 92,75 CHAMPION OF THE CATEGORY
T9-027 Manado State University Choir 86,25 GOLD MEDAL
T9-044 Tomohon Christian Choir 78,50 SILVER MEDAL
T9-045 Tomohon Christian Female 73,25 SILVER MEDAL
T9-018 Serafim Choir 65,50 SILVER MEDAL
T9-050 Nafiri Plus VG 57,25 BRONZE MEDAL

THE WINNER OF THE GRAN PRIX CHAMPIONSHIP:
T9-021 Bitung Student Singers.

From: “Choral Society” Ramli A. Nainggolan

Poster (compressed)Cappella Victoria Jakarta mempersembahkan Konser Musik Gereja Nyanyian Polifoni Sakra.

Music written for the Sistine Chapel. Giovanni Pierluigi da Palestrina. Missa Papæ Marcelli. Gregorio Allegri Miserere mei, Deus (The Top C Version)

Sabtu, 25 Juli 2009 | Pukul 20.00 WIB
Gereja Katolik Santa Theresia, Jakarta

GRATIS – dengan tanda masuk

Informasi: Riani (0815.920.4114), Siska (021-68664168), Yustina (0815.810.3096),  

Cappella Victoria Jakarta

Didirikan oleh beberapa anak muda dari Paroki St. Theresia pada akhir tahun 2005, Cappella Victoria kemudian berkembang menjadi paduan suara (cappella) yang lebih sering menekuni nyanyian polifoni sakra (sacred polyphony) abad XVI, khususnya karya-karya Giovanni Pierluigi da Palestrina dan Tómas Luis de Victoria.

Sejak tahun 2006, Cappella Victoria secara rutin menyanyikan polifoni sakra dalam perayaan ekaristi di Gereja Katolik St. Theresia dan beberapa Gereja Katolik di Jakarta. Cappella Victoria berharap, melalui suasana yang tercipta dari nyanyian polifoni sakra, umat dapat terbantu dalam beribadat kepada Sang Pencipta.

Selama tiga tahun terakhir, Cappella Victoria terus meperkaya repertoar polifoni sakra hingga kini telah mencapai lebih dari 40 nyanyian; sebagian besar di antaranya merupakan karya dari komposer utama Gereja Katolik, seperti: Palestrina (Missa Papæ Marcelli dan sejumlah motet), Gregorio Allegri (Miserere mei, Deus), Victoria (Feria VI in Parasceve ad Matutinum dan sejumlah motet), serta Domenico Bartolucci (Missa de Angelis dan beberapa madah).

Dengan semboyan “tetap semangat” (adaptasi dari: “estote fortes et pugnate), Cappella Victoria terus menggiatkan anggotanya untuk turut serta dalam menghidupkan kegiatan menggereja di tempat masing-masing, khususnya dalam bidang paduan suara. Saat ini Cappella Victoria beranggotakan 33 orang yang berasal dari 15 paroki di Keuskupan Agung Jakarta.

Nyanyian Polifoni Sakra

Polifoni sakra (sacred polyphony) merupakan sebutan untuk nyanyian gereja yang diciptakan pada jaman renaissance (periode 1450-1600). Umumnya nyanyian polifoni sakra berupa misa (missa) dan motet (motécta), yang biasanya dinyanyikan tanpa iringan alat musik (a cappella). Nyanyian polifoni sakra memiliki lebih dari satu suara (part) – terdiri atas nyanyian pokok (cantus firmus) dan motif imitasinya – di mana setiap suara secara independen bergerak maju secara horisontal menurut interval (“fugal”); berbeda dengan nyanyian homofon, di mana dalam ritme yang sama semua suara bergerak maju bersama secara vertikal menurut akord (“familiar”).

 Nyanyian polifoni sakra lazimnya menggunakan nyanyian pokok (maupun teks) dari nyanyian Gregorian (Gregorian chant), dan disusun menggunakan tangga nada (modus) tertentu  (biasanya menyesuaikan dengan tangga nada nyanyian pokoknya) untuk mengekspresikan suasana nyanyian. Imitasi dekoratif dipasangkan pada nyanyian pokok menggunakan variasi spesies kontrapung (counterpoint), dan dapat bergerak sejajar maupun berlawanan terhadap nyanyian pokok. Pada nyanyian polifoni sakra sering ditambahkan pula aksen (accidentals) maupun variasi nada disonan (dissonance) untuk membuat pergerakan setiap suara makin dinamis. Tekstur musik polifoni sakra disusun lebih menyatu (blend) agar kaya harmoni; berbeda dengan tekstur musik organum – nyanyian yang menjadi awal mula lahirnya nyanyian polifoni – pada jaman medieval (periode sebelum 1450), yang dibuat kontras.

Lazimnya, kombinasi komposisi fugal-familiar disesuaikan dengan pendek-panjangnya teks nyanyian. Tipe komposisi fugal banyak dijumpai dalam nyanyian yang memiliki teks relatif pendek, misalnya Kyrie, Sanctus, dan Agnus Dei dari Missa Papæ Marcelli (Palestrina); sedangkan tipe komposisi familiar dapat dijumpai pada nyanyian yang memiliki teks relatif panjang, misalnya Glória dan Credo dari Missa Papæ Marcelli (Palestrina).

Selain Palestrina dan Allegri, ada banyak komposer lain yang menciptakan nyanyian polifoni sakra, antara lain: Victoria, Guerrero, Lassus dan Byrd. Mereka merupakan kelompok komposer nyanyian gereja (school) di Roma (Italia), Spanyol, Franco-Flemish dan Inggris. Melalui penggunaan teks dan tangga nada yang seusai, serta variasi teknik kontrapung, mereka menghasilkan banyak nyanyian polifoni sakra yang berbobot. Nyanyian polifoni sakra mencapai puncaknya pada era Palestrina, dan kemudian diteruskan oleh Victoria (1548-1611).

 Missa Papæ Marcelli | Giovanni Pierluigi da Palestrina (1525-1594)

Missa Papæ Marcelli merupakan karya Giovanni Pierluigi da Palestrina yang paling terkenal, yang paling banyak dinyanyikan dan direkam. Missa Papæ Marcelli merupakan karya agung (masterpiece) Palestrina dan kerap dinyanyikan pada saat pelantikan Paus (misalnya pada saat inagurasi Paus Yohanes XXIII dan Paus Paulus VI). Belum lama ini Missa Papæ Marcelli dinyanyikan di hadapan Paus Benedictus XVI dalam suatu acara konser di Kapel Sistina. Missa Papæ Marcelli sering diajarkan sebagai acuan dalam pelajaran stile antico pada polifoni jaman renaissance. Missa Papæ Marcelli digubah pada tahun 1562 untuk menghormati Paus Marcellus II yang memimpin selama tiga minggu pada tahun 1555.

Diperkirakan bahwa latar belakang digubahnya Missa Papæ Marcelli oleh Palestrina adalah adanya kontroversi mengenai “kelayakan” musik polifoni dinyanyikan di Gereja akibat unsur tumpang-tindihnya teks pada musik polifoni. Diyakini bahwa gaya deklamasi pada Missa Papæ Marcelli telah meyakinkan para kardinal bahwa dalam musik polifoni teks nyanyian dapat saja terdengar dengan jelas, dan musik gubahan Palestrina terlalu indah untuk tidak dinyanyikan di Gereja. Selanjutnya diceritakan bahwa para kardinal itu menganjurkan Palestrina untuk terus menggubah dengan gaya seperti itu dan mengajarkan gaya itu kepada murid-muridnya. Berkat Missa Papæ Marcelli, polifoni sakra karya Palestrina diterima menjadi salah satu bentuk musik khas Gereja Katolik Roma, selain tentu saja Gregorian chant (bdk. “Instruction on Sacred Music and Sacred Liturgy” yang diterbitkan oleh Sacred Congregation for Rites pada Pesta St. Pius X tanggal 3 September 1958).

Pada tahun 1607, komposer Agostino Agazzari mengatakan bahwa musik yang lebih kuno-lah yang teksnya relatif membingungkan dan terkesan menggumam. Kesan itu disebabkan karena imitasi yang rumit dan panjang pada musik-musik sebelum era Palestrina (terutama abad XV – jaman early renaissance). Namun Palestrina telah menemukan solusinya dengan membuktikan bahwa kesalahan bukan terletak pada musiknya, namun pada penggubah musik tersebut. Untuk menegaskan teorinya, Palestrina menggubah Missa Papæ Marcelli.

Missa Papæ Marcelli disusun pada tangga nada ionian-myxolidian. Missa ini merupakan gubahan bebas, yang tidak didasari pada sebuah nyanyian pokok (cantus firmus). Walau berkomposisi enam suara, kekuatan penuh dari keenam suara itu hanya muncul pada beberapa bagian untuk menunjukan puncak dari teks dan musikalitas dalam missa ini. Kombinasi suara amat bervariasi di seluruh bagian missa ini. Sebagian missa ini berbentuk homorhytmic layaknya deklamasi dengan penataan kata-kata yang amat presisi (Glória dan Credo), sedangkan bagian dengan teks yang tumpang tindih atau fugal (Kyrie, Sanctus–Benedíctus, Agnus Dei) disusun mengikuti kaidah Palestrina Style sehingga (walau secara matematis amat kompleks) teks missa ini tetap dapat didengar dengan jelas saat dinyanyikan.

 Miserére mei, Deus | Gregorio Allegri (1582-1652)

Miserére mei, Deus merupakan karya agung (masterpiece) Allegri. Disusun pada tangga nada Phrygian (kecuali ayat 20b: Aeolian), Miserére dinyanyikan oleh dua kelompok paduan suara (CCATB-CCAB); masing-masing diselingi kantus resitatif pada saat perpindahan dari/ke kelompok-kelompok tersebut. Kantus resitatif dapat dinyanyikan oleh satu atau beberapa penyanyi pria (biasanya dari kelompok pertama) sebagai cantor. Edisi Miserére yang dipersembahkan adalah “The Top C Version”; walau diklaim bukan merupakan edisi otentik, versi ini yang paling banyak digemari, terutama karena nada C tinggi (top C) yang dinyanyikan oleh suara Cantus pada bagian soli/ensembel. Menurut Pietro Alfieri, karya ini diperkirakan disusun pada tahun 1638 karena di dalamnya terdapat kombinasi ciri late renaissance (abad XVI) dan gaya polychoral (yang berkembang di Venezia pada akhir abad XVI dan menjadi permulaan jaman baroque). Sejak ratusan tahun lalu, Miserere merupakan Mazmur Pertobatan (Psalmus Pœnitentialis) yang lazim dilagukan pada Pekan Suci di lingkungan Kapel Sistina. Teks: Mazmur 51 (Vulgata: 50).

 “Music is not man’s invention, but his heritage from the blessed spirits… Music, because instinct with rhythm and harmony, describes the very being of God… Music can affect for good or ill the body as well as the mind… Nowadays, unfortunately, music does often serve depraved ends.” - Tomás Luis de Victoria

 “I had a dream, the music of Palestrina and Gregory the Great had come back.” - Maestro Domenico Bartolucci

 “The training in singing, to sign in a chorus, is not olny an exercise of external listening and of the voice; it is also training for interior listening, listening with heart, an exercise in training for life and for peace.” – Paus Benedictus XVI

From:“cappella_victoria@yahoo.com” cappella_victoria@yahoo.com

Host:
Type:
Network:
Global
Start Time:
Friday, June 19, 2009 at 12:50am
End Time:
Monday, June 22, 2009 at 11:50pm
Location:
Alamanda Resort, Bukit Doa Mahawu
City/Town:
Tomohon, Indonesia
Phone:
081320209496
Email:
n57165038365_84501. Pendahuluan
“Singing Week” adalah sebuah program baru yang diperkenalkan kepada komunitas paduan suara untuk memberikan kesempatan bagi para penyanyi individual ataupun kelompok untuk memperoleh pengalaman berlatih dan konser dengan conductor internasonal. Melalui proses berlatih dan interaksi diantara peserta, diharapkan setiap orang yang mengikuti program ini memperoleh pengayaan di bidang paduan suara baik dalam segi vokal, choral dan management paduan suara.

2. Program
Pada program “Singing Week” yang pertama ini akan mengambil karya George Frederick Handel yang sangat fenomenal yaitu : “MESSIAH” sekaligus memperingati 250 tahin kematian George frederick Handel.

3. Tempat dan waktu
Alamanda Resort, Bukit Doa Mahawu, Tomohon.
19-22 Juni 2009

4. Regulasi
- Setiap peserta harus mengisi formulir pendaftaran dan mengirimkan kepada panitia penyelenggara.
- Setiap peserta harus membayar biaya partisipasi dan mengirimkan bukti pembayaran kepada panitia penyelenggara.
- Panitia akan mengirimkan buku lagu (bisa dipilih dalam bentuk not angka atau not balok) yang harus dipelajari sendiri atau dalam kelompok di tempat masing-masing.
- Setiap peserta datang ke tempat yang telah ditentukan dengan biaya sendiri. Panitia akan menyediakan penjemputan di airport pada jadwal yang telah diberitahukan lebih dahulu.

5. Singing Week 2009 Package
Setiap Peserta dapat mengikuti Singing Week ini dengan memilih paket sebagai berikut:

A. Paket Biaya tanpa Akomodasi Rp 1.500.000 (satu juta limaratus ribu rupiah)
• Seminar kit
• Open singing book
• Entry to all class + concerts
• Entry to opening and clossing concerts
• Dinner 19 March 2009, lunch and dinner 20,21,22 March 2009

B. Paket Biaya dengan Akomodasi Rp 2.000.000 (dua juta rupiah)
• Seminar kit
• Open singing book
• Entry to all class + concerts
• Entry to opening and clossing concerts
• Dinner 19 March 2009, breakfast, lunch and dinner 20,21,22 March 2009
• Accomodation for 4 nites 19-22 March 2009

Keterangan: Pembayaran melalui transfer ditujuakan kepada:
Nama Bank : Bank Central Asia (BCA) cab. Manado
Nomor Rekening : 026 14 687 26
Atas nama : Tommyanto
Cantumkan Berita : Singing Week+”Nama Anda”

PENTING:
DISCOUNT Rp 500.000 untuk pendaftaran sebelum 30 April 2009.

6. Pendaftaran
- Pendaftaran ditutup tanggal 31 Mei 2009
- Setiap peserta wajib mengirimkan formulir pendaftaran dan bukti pembayara lewat bank melalui email atau faks.

SINGING UNITES PEOPLE.
You can Join, Be Part of It and Singing Together

From: Choral Society Facebook

SINGING UNITES PEOPLE

Host:
Type:
Network:  
Start Time:
Friday, June 19, 2009 at 12:00am
End Time:
Monday, June 22, 2009 at 11:55pm
Location:
Alamanda Resort, Bukit Doa Mahawu, Tomohon.
City/Town:
Tomohon, Indonesia
Phone:
6281320209496
Email:

Description

Kelas yang tersedia:
- CONDUCTING CLASS
- VOICE S CLASS
- CHOIR CLINIC
- CONCERT

Speakers:
- Prof Andre de Quadros, Boston – USA
- Thomas Caplin, Norwegia
- Anna Beleda Piquero, Philippines
- Lee Phyl Hwan, Korea
- Hwang Hwa Sook, Korea
- Catharina Leimena, Indonesia
- Miguel Felipe, Boston – USA
- Christian Tamaela, Indonesia
- Tommyanto Kandisaputra, Indonesia

SCM-Tomohon 2009 Package
Setiap Peserta dapat mengikuti Simposium ini dengan memilih paket sebagai berikut:
A. Paket Biaya tanpa Akomodasi Rp 1.500.000 (satu juta limaratus ribu rupiah)
• Seminar kit
• Open singing book
• Entry to all class + concerts
• Entry to opening and clossing concerts
• Dinner 19 March 2009, lunch and dinner 20,21,22 March 2009

B. Paket Biaya dengan Akomodasi Rp 2.000.000 (dua juta rupiah)
• Seminar kit
• Open singing book
• Entry to all class + concerts
• Entry to opening and clossing concerts
• Dinner 19 March 2009, breakfast, lunch and dinner 20,21,22 March 2009
• Accomodation for 4 nites 19-22 March 2009

Keterangan: Pembayaran melalui transfer ditujuakan kepada
Nama Bank : Bank Central Asia (BCA) cabang Manado
Nomor Rekening : 026 13 700 50
Cantumkan berita : SCM+”Nama Anda”

PENTING:
- DISCOUNT Rp 500.000 untuk pendaftaran sebelum 30 April 2009.
- Pendaftaran ditutup tanggal 31 Mei 2009
- Setiap peserta wajib mengirimkan formulir pendaftaran dan bukti pembayaran lewat bank melalui email atau faks.

SINGING UNITES PEOPLE.

Ramli A. Nainggolan

Sumber: Choral Society Facebook

Sebuah catatan singkat,Meretas kembali komparatif dan kompetitif seni paduan suara.

  1. 1. Dewasa ini, perkembangan seni menampakkan citra yang berbeda dan progresif. Progresifitas itu tampak dari munculnya generasi “hibrida” dalam karya seni. Hal itu, dilatarbelakangi oleh berkembangnya gerakan Garda Depan (Avant garde) dalam segala proses berkesenian. Cirinya yang progresif dan mereduksi segala batas-batas formal berkesenian, membawa seni menjadi melintas batas tatanan. Seni apapun bentuknya, menjadi meluas, kolaboratif, heteroistik. Bentuk perlawanan terhadap tatanan dan kolaboratif ini telah memunculkan berbagai kecenderungan seni yang kontemporer hingga sulit untuk digolong-golongkan kedalam formalisasi model.
  2. Begitupun yang terjadi dengan seni paduan suara. Paduan suara berubah dari seni “memadu suara” menjadi seni “memainkan suara”, tentu saja ini bukan berlaku untuk seni paduan suara formal. Hal itu tentu saja dipicu oleh perkembangan seni musik dan seni bernyanyi. Nyanyian, senandung atau apapapun bentuknya, berkembang begitu ragam, hingga seringkali membuahkan sub-culture seperti pop, rock, hip-hop dan lain sebagainya. Begitupun dengan paduan suara yang sudah mempunyai kestabilan dalam segi sub-culture, seperti yang dipengaruhi oleh perkembangan sejarah gereja dan perkembangan musik liturgi. Namun, seni paduan suara menampakkan kemenarikkannya ketika “tidak setia” dan mulai melanggar formalitasnya dengan konsep “hibrid”. Kenyataan itu sering terlihat, ketika paduan suara sering digunakan untuk alat “sampingan” grounded bagi para musisi atau penyanyi tunggal. Amat sayang, jika paduan suara hanya diletakkan sebagai grounded semata saja. Paduan suara harus menampakkan konsepnya sebagai suara yang “memadu”, hingga suara yang “bermain” pada tatanan utuh accord atau ensemble.
  3. Konsep permainan ensemble melalui suara manusia inilah yang sekarang ini menjadi kompetitif. Kompetitifnya tidak terletak pada konsep jenis paduan suara antara paduan suara pria atau wanita saja (jenis kelamin), atau tataran suara, sopran, alto, tenor dan bass melainkan bagaimana memainkan suara. Sebuah ensemble suara yang dibayangkan sebelumnya selalu terpaku pada formalisasinya, namun sekarang ini, ensemble berubah menjadi senyawa irama. Hal itu terlihat nyata dalam tatanan atau wacana konsep etno, sehingga ensemble suara yang diwacanakan ingin dikembalikan kembali kepada prinsip primitifnya. Hal itu mendasar pada konsep suara, pada senandung orang Indian, africa, semitisme, samanisme, jawanisme (hinduisme) dll.
  4. Konsep “hibrida” yang saat ini muncul, lebih kepada konsep interculture, tetapi juga seringkali pada konsep intermediasi. Maka ketika hal itu dikaitkan dengan wacana paduan suara, bentuk-bentuk paduan suara menjadi sesuatu yang lintas perfoma. Interculture itu bisa terjadi pada musik pengiring paduan suara atau bagaimana paduan suara mencoba “memainkan” suaranya. Misalnya, yang terlihat pada apa yang diperformakan group ERA dengan memadukan irama populer, rock serta gregorian dengan tecno.
  5. Nuansa perkembangan budaya New Age, sangat berpengaruh dan kaya dalam segi “hibridasi” ini. Ambil contoh, bagaimana seni-seni “hibrid” ini mewarnai kancah seni populer dewasa ini, seperti; ERA, Enya, Sarah Brighman, atau pada lagu-lagu Josh Groban yang berkolaborasi dengan Black Mumbazo. Maka New Age pun menghantar berbagai musik-musik yang kaya akan dimensi spiritual dengan musik yang didominasi bernada oktaf, namun juga kecenderungan-kecenderungan absurditas pada pilihan nada-nada musiknya, seperti apa yang dipopulerkan dengan generasi Brith Pop. Tentu saja, secara analisis budaya, hal ini dipengaruhi oleh struktur naratif zaman dewasa ini yang menuturkan berbagai pergulatan penderitaan hidup, kecemasan dan kerinduan akan yang sakral.
  6. Seni paduan suara akan mudah “diasingkan” ketika hanya bercokol pada menara gading perfoma. Karena dirinya hanya diinternalisasi untuk kepentingan religi atau prestasi-prestasi yang prestisius yang kurang kompetitif. Dari segi Komparatifnya, pasti sudah didapat sebagai salah satu bagian kerasulan menyanyi, namun secara kompetitif berkesenian amatlah sangat terbatas. Maka perlulah paduan suara membuka peluang seluas-luasnya pada konsep “hibridasi” itu, tentu saja bukan untuk mengkaburkannya, tetapi untuk merevitalisasinya.(purwono nugroho adhi, penikmat kerja seni)

Sumber: http://purwonomedia.wordpress.com/2008/03/15/kajian-seni-paduan-suara/#comment-23

Istilah “Barat” dalam bahasa Indonesia berarti, mata angin yang berlawanan dengan jurusan timur. Tetapi arti akar kata “Barat” itu ialah negeri India, oleh karena negara besar itu letaknya di sebelah barat kepulauan Indonesia. 

Setidaknya, ada dua keunikan terkait dengan lagu pujian ini. Pertama, berkenaan dengan penulisnya, yang tidak hanya orang Barat, namun lahir dan meninggal di India. Keunikan kedua, pujian ini bukanlah karangan asli yang benar-benar baru. Syairnya sebenarnya merupakan saduran dari kitab Mazmur.

Siapakah yang menyusun saduran Mazmur itu?

ORANG BARAT DI BENUA “BARAT”

Robert Grant memang seorang Barat menurut arti kata yang biasa. Tetapi ia pun dilahirkan di negeri “Barat” menurut arti akar kata yang dijelaskan di atas. Orang tuanya yang berkebangsaan Skotlandia sedang menetap di India ketika putra mereka dilahirkan pada tahun 1785. 

Ayah Robert Grant adalah seorang saudagar dan pegawai pemerintah penjajah di India. Sesudah ia dengan keluarganya pindah kembali ke Skotlandia, ia menjadi seorang anggota Parliament (DPR Inggris Raya). Sebagai seorang negarawan ia berusaha menghapus rintangan-rintangan yang menghalangi pengabaran Injil di negeri India.

Jadi, Robert Grant dibesarkan dalam suatu lingkungan yang insaf akan masalah sosial dan politik, yang juga insaf akan keperluan umat manusia untuk menerima kabar Injil. Maka tidaklah mengherankan jika ia sendiri kemudian menjadi seorang negarawan Kristen, sama seperti ayahnya.

Dalam kariernya yang cukup gemilang, Robert Grant selalu bertindak atas dasar prinsip-prinsip kepercayaan Kristen. Ia banyak berjasa bagi sesamanya. Ia turut memberantas perdagangan budak belian. Ia juga memperjuangkan hak-hak sipil untuk warga negara Inggris keturunan Yahudi, yang pada masa itu masih sering terkena prasangka. Selain itu, ia juga menyokong pengiriman utusan-utusan Injil ke India dan negeri-negeri lain.

Seperti ayahnya, Robert Grant juga menjadi seorang anggota DPR Inggris Raya selama bertahun-tahun. Ia juga menjadi seorang saudagar dan pegawai pemerintah penjajah di negeri India. Pada tahun 1834 ia bahkan ditunjuk menjadi gubernur kota Bombay. Ia tetap memegang jabatan yang tinggi itu sampai meninggal empat tahun kemudian.

Setelah ia wafat, suatu pertemuan besar diadakan untuk menghormati almarhum gubernur itu. Banyak penduduk kota Bombay yang ikut hadir. Juga di kota Dalpoorie didirikan sebuah sekolah tinggi kedokteran yang diberi nama menurut nama dia. Sekolah itu dibangun dengan sumbangan dan dana yang diberikan oleh banyak orang, baik kaya maupun miskin karena mereka ingin menyatakan rasa hormat dan syukur atas jasa-jasa Gubernur Grant yang baik hati.

NEGARAWAN MERANGKAP PENGARANG
Di tengah-tengah kesibukannya sebagai seorang negarawan dan pedagang, Robert Grant juga sewaktu-waktu suka mengarang. Karangannya tidak begitu banyak dan juga tidak begitu diketahui oleh orang lain pada masa hidupnya. Sesudah meninggal, kakaknya mengumpulkan semua lagu rohani dan syair yang pernah ditulisnya. Jumlahnya hanya dua belas saja. Tulisan-tulisan itu diterbitkan dalam sebuah buku kecil. Dan di antara tulisan yang hanya sedikit itu terdapatlah satu syair yang kemudian menjadi sebuah lagu pilihan di seluruh dunia.

Pada suatu hari dalam tahun 1833, setahun sebelum ia pindah kembali ke India, negeri kelahirannya, Robert Grant sempat membuka Alkitabnya pada Mazmur 104. Dengan bimbingan baris-baris puisi kuno dari seorang pemazmur yang diilhami Allah itu, ia menulis sebuah syair rohani yang baru. (Rupa-rupanya pada saat itu pula Robert Grant membandingkan isi Alkitab dengan suatu saduran Mazmur 104 yang pernah ditulis pada tahun 1561 oleh William Kethe, seorang Kristen Skotlandia yang mengungsi ke negeri Swis demi kebebasan beragama.)

Ada beberapa syair yang oleh para sarjana dianggap indah dari segi puisi, namun tidaklah demikian dari segi rohani. Ada pula beberapa syair yang dianggap indah dari segi rohani, namun tidak demikian dari segi puisi. Keunggulan lagu saduran Mazmur karangan Robert Grant ialah syair itu oleh para sarjana dianggap sangat indah, baik dari segi puisi maupun dari segi rohani.

Mari kita memerhatikan empat baris pertama dari syair itu dalam bahasa aslinya:

“O worship the King, all glorious above,
And gratefully sing His wonderful love!
Our Shield and Defender, the Ancient of Days,
Pavilioned in splendor, and girded with praise. “

Jelas, bahwa di samping suku-suku kata terakhir dari keempat baris yang bersanjak itu, ada juga suku-suku kata di tengah-tengah keempat barisnya yang bersajak pula. Persajakan yang demikian rumitnya itu diteruskan selama enam bait penuh. Sayang, kebanyakan terjemahan ke dalam bahasa Indonesia tidak berhasil mencerminkan keindahan puisi dalam bahasa aslinya itu.

Tetapi yang lebih penting dari keelokan syairnya ialah arti rohaninya. Lagu berupa saduran Mazmur karangan Robert Grant itu dipakai oleh umat Kristen di seluruh dunia sebagai sarana untuk menyatukan suara mereka dalam menaikkan puji-pujian kepada Tuhan Allah.

DARI KELUARGA SEORANG TUKANG RODA
Lagu yang selalu diterapkan pada syair rohani karangan Robert Grant itu, bukan berasal dari negeri Inggris ataupun dari negeri “Barat” (India), melainkan dari Austria.

Lebih dari dua setengah abad yang lalu, ada dua anak laki-laki berkebangsaan Austria yang tinggal di desa Rohrau. Ayah mereka menjadi tukang roda dan gerobak di desa itu. Franz Josef Haydn lahir pada tahun 1732 dan adiknya Johann Michael Haydn lahir pada tahun 1737.

Kedua anak kakak-beradik itu senang sekali tiap kali keluarga mereka berkumpul untuk bernyanyi bersama-sama. Ayah mereka bukan hanya ahli dalam membuat roda dan as gerobak; ia juga mahir bermain harpa (sebangsa kecapi). Pada waktu ia memetik tali-tali harpa itu, seluruh keluarganya — ayah, ibu, dan dua belas anak — suka menyanyikan lagu-lagu rohani dan lagu-lagu daerah Austria. Mereka sudah biasa melakukan kegiatan itu tiap malam dan juga pada hari Minggu.

Sebagai anak-anak, baik Franz Josef maupun Johann Michael mempunyai suara sopran yang tinggi dan merdu. Ketika si kakak itu berumur dua belas tahun, ia ditunjuk menjadi anggota dari sebuah paduan suara yang terkenal, khusus untuk anak-anak laki-laki. Mereka sering menyanyikan puji-pujian dalam kebaktian di ibu kota Wina, yang dihadiri oleh sang raja dan ratu. Beberapa tahun kemudian, ketika suara Franz Josef mulai berubah dan turun, adiknya Johann Michael menggantikan tempatnya dalam paduan suara putra itu. (Cukup menarik bahwa paduan suara anak laki-laki yang terkenal dari kota Wina itu masih tetap diteruskan hingga kini, dan bahkan pernah sempat membawakan konser di Jakarta.)

“SEMUANYA DEMI MEMPERMULIAKAN ALLAH”
Kedua pemuda yang suka menyanyi itu kemudian juga belajar bermain biola, piano, dan organ. Keduanya rajin menciptakan musik, terutama musik rohani, yang menjadi populer sekali pada abad yang ke-18. Keduanya menjadi pemimpin orkes yang besar dan koor gereja yang terkenal. Keduanya pun menjadi guru bagi seniman-seniman musik lainnya yang ternama.

Keduanya adalah orang-orang Kristen yang saleh. Mereka selalu bersikap rendah hati atas bakat-bakat yang diberikan kepada mereka oleh Tuhan. Franz Josef Haydn suka menulis dalam bahasa Latin pada sebelah atas tiap naskah karangannya: “In Nomine Domini” (Dalam Nama Tuhan). Pada akhir musik ciptaannya itu ia menulis: “taus Deo” (Puji Allah), atau “Soli Deo Gloria” (Hanya demi Kemuliaan Allah). Dan Johann Michael Haydn selalu mengakhiri naskah musiknya dengan menulis: “Omnia ad Majorem Dei Gloriam” (Semuanya demi Mempermuliakan Allah”).

Anehnya, hanya satu di antara kedua orang itu yang masih terkenal hingga kini. Banyak karangan Franz Josef Haydn yang masih dimainkan dan dinyanyikan sampai sekarang. Riwayat hidupnya yang lengkap itu mudah didapat dalam buku-buku sejarah musik karena ia masih dihormati sebagai salah seorang komponis yang terbesar sepanjang abad. Tetapi hampir semua dari 360 gubahan musik hasil karya Johann Michael Haydn, walau oleh kakaknya dianggap jauh lebih bagus daripada musik karangannya sendiri, sudah dilupakan pada abad ini.

Tidak seorang pun dapat mengetahuinya dengan pasti, yang manakah di antara kedua bersaudara yang berbakat itu yang menulis musik yang sekarang biasa dinyanyikan dengan “Lagu Berupa Saduran Mazmur” karangan Robert Grant. Ada ahli sejarah musik yang mengatakan Franz Josef Haydn, kakak yang ternama itu. Tetapi mungkin ada lebih banyak sarjana yang mengatakan Johann Michael Haydn, sang adik yang hampir dilupakan itu.

Rupa-rupanya lagu itu tidak dikarang sebagai nyanyian pujian. Ada seseorang yang pernah mengambilnya dari suatu kumpulan musik karangan Haydn (salah seorang di antara dua bersaudara itu) dan menggubahnya sehingga cocok diterapkan pada syair rohani. Pada tahun 1818, setelah Haydn bersaudara meninggal, lagu itu muncul dalam sebuah buku nyanyian pujian di Amerika Serikat.

Itulah sebabnya, sering ada tanda tanya dalam kurung yang dicetak di belakang nama pengarang musik untuk “Lagu Berupa Saduran Mazmur”. Tidaklah dapat dipastikan, apakah pengarangnya itu Franz Josef Haydn (1732-1809) ataukah Johann Michael Haydn (1737-1806).

Tidak mengapa. Bukankah kedua-duanya ingin supaya semua hasil karya mereka itu hanya digunakan demi kemuliaan Tuhan?

 

Diambil dan diedit seperlunya dari:

Judul buku : Riwayat Lagu Pilihan dari Nyanyian Pujian
Judul asli artikel : Lagu Berupa Saduran Mazmur
Penulis : H. L. Cermat
Penerbit : Lembaga Literatur Baptis, Bandung 1987
Halaman : 43 — 47

Artikel di atas hadir dalam Buletin Elektronik Biografi Kristiani Edisi 008, Maret 2007. http://biokristi.sabda.org/lagu_berupa_saduran_mazmur

Panduan Sayembara Lomba Cipta Lagu Pesparawi Nasional IX Tahun 2009

PESPARAWI (Pesta Paduan Suara Gerejawi) adalah sebuah wadah yang menyelenggarakan Paduan Suara Gerejawi baik pada tingkat Regional (daerah) maupun Nasional dalam rangka memotivasi umat Kristiani untuk menggali bakat-bakat di bidang musik, vokal untuk dipersembahkan kepada Tuhan sebagai sebuah ekspresi iman.

Pada setiap kali penyelenggaraan PESPARAWI Nasional yang pelaksanaannya telah dijadwalkan 1 (satu) kali dalam tiga tahun selalu diadakan sayembara lomba cipta lagu dan/atau diadakan penugasan secara khusus kepada komposer. Untuk itu, dirasa sangat perlu Ditjen Bimas Kristen/Lembaga Pengembangan Pesta Paduan Suara Gerejawi (PESPARAWI) Nasional (LPPN) mengadakan Sayembara Lomba Cipta Lagu untuk dipilih dan diperlombakan menjadi lagu wajib dan lagu pilihan pada PESPARAWI Nasional IX Tahun 2009 di Samarinda, Provinsi Kalimantan Timur.

A. TUJUAN SAYEMBARA
a. Mempersiapkan lagu-lagu yang akan diperlombakan pada PESPARAWI Nasional IX Tahun 2009 di Samarinda, Provinsi Kalimantan Timur;
b. Mengembangkan kreativitas musisi dan komponis Kristen;
c. Memperkaya nuansa seni budaya yang bernafaskan keagamaan Kristiani di Indonesia, yang oikumenis.

B. PENGERTIAN PESPARAWI
a. PESPARAWI adalah singkatan dari Pesta Paduan Suara Gerejawi;
b. PESPARAWI adalah salah satu bentuk kegiatan kerohanian yang sekaligus memperhatikan, menghargai dan mendorong pengembangan seni budaya yang bernafaskan keagamaan;
c. PESPARAWI adalah Pesta Iman, oleh sebab itu merupakan bentuk ibadah syukur dan puji-pujian kepada Allah yang telah menyatakan diri-Nya di dalam Yesus Kristus Kepala Gereja.

C. TEMA/SUB TEMA PESPARAWI NASIONAL IX TAHUN 2009
1. Tema :
“Berakar, Dibangun dan Bertambah Teguh
Di Dalam Tuhan” (Bdk. Kolose 2:7);
2. Sub Tema :
“Dalam Syukur Kepada Tuhan Bersama-sama Kita Bangun Masyarakat Berakhlak Mulia, Bermoral, Beretika dan Beradab Berdasarkan Pancasila.”

Direktorat Jenderal
Bimbingan Masyarakat Kristen
Lembaga Pengembangan Pesta Paduan Suara Gerejawi (PESPARAWI) Nasional (LPPN)
Sekretariat: Jl. Lap. Banteng Barat No. 3-4
Jakarta 10710 Telp. 3811658, 3811779 Pest 262
Telp. Langsung/Fax. 3812583, 3846832, 3811649

Sumber: http://www.pgi.or.id/info.php?news_id=43

Berikut kami sampaikan informasi mengenai AUDIS VOKAL Pesparawi DKI Jakarta 2009.

Pendaftaran : sampai dengan 25 April 2009 (PADA HARI DAN JAM KERJA)
Audisi : 02 – 12 mei 2009 – JAM: 12.00 – Selesai (Materi Audisi diberikan saat pendaftaran) biaya: Rp. 150.000,- / orang

KATEGORI AUDISI :
1. Paduan Suara Dewasa (usia min. 24 th)
2. Paduan Suara Anak (usia 6-13 th)
3. Solo Remaja/Pemuda Putra/Putri (usia 14-23 th)
4. Solo Anak Putra/Putri (usia 6-13 th)

Pendaftaran :
1. Dapat ditransfer ke Bank BCA KCP Otista Rek No.: 5530303430 a/n. Adieli Zendrato MTh
2. Akan diberikan partitur untuk di persiapkan dan akan ditampilkan pada saat Audisi.
3. Partitur dan form pendaftaran dapat di ambil di Gedung LPPN (Lembaga Pengembangan Pesparawi Nasional), di Jl. Paus No. 10, Rawamangun Jakarta Timur 13220, (Dari arah terminal Rw.Mangun menuju Arion persis setelah Columbia) Telp.: 021 – 33783300, Dengan Bp. Sentosa

Jika lulus audisi maka akan:
1. Pelatihan gratis yang akan dibimbing oleh Pelatih Nasional
2. Tim kontingen yang terbentuk akan dikirim ke Samarinda untuk bertanding di PESPARAWI NASIONAL IX 2009
3. Tiket PP Samarinda & Akomodasi selama di Samarinda GRATIS

Demikian kami sampaikan informasi tersebut. Kami mohon bantuannya untuk dapat menyebarkan informasi ini untuk rekan-rekan yang memiliki bakat menyanyi dan bisa ikut mendukung jakarta menjadi calon juara nasional PESPARAWI Nasional 2009.

Terimakasih atas dukungan dan bantuannya.

Semoga Tuhan Memberkati

From: 

Salam
Meilany (021-95267311)
Tim Audisi Vokal
LPPD

mercusuarLagu dibawah ini sekalipun sangat sederhana namun sangat kuat dalam melodi dan syairnya sehingga menjadi salah satu favorite saya untuk menyanyikannya secara SATB dalam paduan suara, pernah suatu ketika seorang jemaat menitikkan air mata mendengar lagu ini.

Mercu Suar Kasih Bapa (NKB 206) Judul Asli : “Let the Lower Lights Be Burning” Teks : Philip P.Bliss (1871) Musik : Philip P.Bliss (1871) Alih Bahasa : E.L. Pohan (1917-1993)

1. Mercu suar kasih Bapa memancarkan sinarNya. Namun suluh yang dipantai, kitalah penjaganya.

Ref: Pelihara suluh pantai walau hanya k’lip kelap. Agar tiada orang hilang di lautan yang gelap.

2. Malam dosa sudah turun, ombak dahsyat menyerang. Banyaklah pelaut mengharap sinar suluh yang terang.

3. Peliharalah suluhmu, agar orang yang cemas, yang mencari pelabuhan, dari mara terlepas.

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” (Matius 5:16) “Hendaklah pinggangmu tetap berikat dan pelitamu tetap menyala.” (Lukas 12:35)

Lagu jemaat yang mengajak kita agar tetap bersinar bagi-Nya ini dikarang oleh Philip Paul Bliss (1838-1876), seorang yang dilahirkan di daerah pedesaan di Clearfield County, Pennsylvania Amerika Serikat. Pada mulanya dia meninggalkan rumah untuk bekerja di ladang dan membuat bagian-bagian mebel kayu, namun kemudian dia menjadi guru musik dan menjadi seorang penulis lagu profesional. Pada akhirnya, Bliss bergabung dengan penginjil legendaries D.W. Whittle dan D.L. Moody sebagai direktur musik di pusat pelayanan di Chicago Amerika Serikat.. Kebanyakan lagu-lagu yang Bliss tulis, terinspirasi dari ilustrasi-ilustrasi khotbah. Lagu ”Mercu Suar Kasih Bapa” ini terinspirasi dari cerita yang dibawakan D.L. Moody dalam khotbahnya sebagai berikut. Pada sebuah malam yang gelap, bintang-bintang tertutup awan, badai dan ombak besar menerjang sebuah kapal. Kapal yang terombang ambing itu sedang menuju pelabuhan Cleveland Amerika Serikat. Sambil melihat seberkas cahaya dari mercu suar, sang kapten kapal bertanya pada juru mudi ”Apakah kamu yakin kalau itu adalah Cleveland?”. Si jurumudi menjawab ”Ya, sepertinya itu cahaya dari mercu suar pelabuhan Cleveland”. Namun kapten kapal kembali bertanya ”dimana cahaya garis pantainya, biasanya orang-orang yang tinggal di pantai tetap menyalakan suluhnya sehingga garis pantai akan tampak sebagai garis cahaya tipis yang berkelap-kelip”. Si juru mudi kembali menjawab bahwa garis cahaya itu tidak kelihatan dan kemudian berseru ”Kita harus bisa menemukan pelabuhan itu atau kita akan binasa”. Dengan penuh keyakinan akhirnya sang juru mudi memutar haluan, dan malang tak dapat dihindarkan, kapal itu menabrak batu karang dan tenggelam. Seluruh penumpangnya mati dan tenggelam di laut yang sangat dingin itu. D.L. Moody kemudian menjelaskan bahwa cahaya mercusuar itu adalah perlambang teladan Yesus Kristus yang menjadi panutan banyak orang ketika menghadapi badai hidup. Para jemaat pada saat itu diminta untuk tetap mempertahankan nyala suluhnya. Sehingga meskipun cahayanya kecil, namun jika seluruh orang Kristen tetap bercahaya, maka hal itu akan membawa keselamatan bagi orang-orang yang sedang terombang-ambing dalam pergumulan hidupnya..” Philp P. Bliss akhirnya menuliskan lagu berdasarkan ilustrasi khotbah di atas. Lagu ini pertama kali muncul dalam kumpulan lagu sekolah minggu ”The Charm” yang diterbitkan untuk ”John Curch and Co.” di Cincinnati pada tahun 1871. Bliss dan istrinya meninggal dalam sebuah kecelakaan tragis yaitu terbakarnya kereta api yang mereka tumpangi dekat Ashtabula, Ohio. Pada saat itu mereka sedang dalam perjalanan dari Pennsylvania ke Chicago setelah mengunjungi sanak keluarganya. Pada malam sebelum kecelakaan naas itu Bliss sepertinya sudah menubuatkan kematiannya dan mengatakan ”Saya mungkin tidak akan melewati jalan ini lagi” dan menyanyikan sebuah lagu ” I’m Going Home Tomorrow.” (”Saya akan pulang ke rumah besok”). Sepanjang hidupnya Bliss telah menciptakan lebih dari 60 nyanyian jemaat yang terus dinyanyikan hingga saat ini. Salah satunya adalah lagu ”Mercu Suar Kasih Bapa” lagu yang mengajak agar setiap orang Kristen mengenali peran dan tanggungjawab pribadinya. Mari kita tetap menjaga suluh kita agar tetap menyala, seperti apa yang sudah diteladankan Philip Paul Bliss sepanjang hidupnya sampai kematian menjemputnya.

Sumber: Hymn Of The Week – GKI Serpong http://www.gkiserpong.org/bsd

Older Posts »