konser-019kirim.jpg 

IT IS WELL WITH MY SOUL
Ketika hidupku sentosa,
Teduh atau sengsara penuh,
Di dalam kasihMu ku tinggal teguh
Nyamanlah, nyamanlah jiwaku
Nyamanlah, nyamanlah jiwaku

Kalimat-kalimat di atas, merupakan cuplikan lagu hasil karya Horatio G. Spafford. Dalam bahasa Inggris, lagu tersebut terkenal dengan judul “It Is Well With My Soul” yang diterjemahkan dalam bahasa  Indonesia “Nyamanlah Jiwaku”. 

Konon, lagu tersebut ditulis oleh Spafford di atas kapal tatkala ia melintasi Lautan Atlantik, dalam perjalanannya ke Eropa. Ketika itu, dia mengingat ketiga putrinya yang meninggal karena kapal yang mereka tumpangi karam dalam perjalanan ke Eropa beberapa tahun silam. Meskipun dalam perjalanan itu istrinya mendampingi ketiga putrinya, namun hanya istrilah yang luput dari ancaman yang berbahaya itu.

Penderitaannya tidak berhenti di situ. Beberapa tahun kemudian dia kehilangan putranya yang sangat disayangi. Anak laki-lakinya itu meninggal karena menderita sesuatu penyakit. 

Rupanya, penderitaannya belum cukup, sebab beberapa waktu kemudian dia dan istrinya dikucilkan oleh gereja tempat mereka berbakti. Mereka beranggapan bahwa pasangan Spafford ini telah berhubungan dengan kuasa gelap. Anggapan yang tidak berdasar ini, dilandasi atas keyakinan bahwa hanya mereka yang berselingkuh dengan setan yang akan kehilangan keempat anaknya. 

Spafford dan istri terpaksa pindah ke tempat yang jauh untuk memulai hidup yang baru. Hari tua Spafford tidaklah terlalu bahagia sebab pada akhirnya ia menderita sakit jiwa. 

Apa yang terjadi dengan Spafford sehingga menderita sakit jiwa? 

Padahal, dia yang menulis lagu “Nyamanlah Jiwaku” menunjukkan kekuatan imannya yang luar biasa. Spafford tegar menghadapi kematian ketiga putrinya; ia pun tetap tabah menerima kematian putranya. Namun, tak kuasa menahan penderitaannya ketika gereja tempatnya berbakti mengucilkan dia. Sistem pertahanan hidupnya runtuh dan jiwanya pun retak. 

Mungkin ada di antara Anda yang berargumen bahwa seharusnya ia tetap waras, jikalau tetap beriman kepada Tuhan. Sebab dengan beriman ia tidak akan mengalami sakit jiwa. 

Memang betul, tetapi dalam kenyataan hidup, banyak peristiwa yang tidak seharusnya terjadi, namun tetap datang meskipun tidak diundang. Mestinya kita beriman dan bersandar kepada Tuhan, tetapi kenyataannya kita tidak selalu beriman dan bersandar kepadaNya.Yang terjadi pada Spafford; di episode terakhir hidupnya adalah tanggul pertahanannya bobol akibat tekanan arus yang terlalu kuat. Banjir penderitaan pun menggenangi sukmanya dan melumpuhkan sendi-sendi pertahanan hidupnya.  

Ada beberapa hal yang harus kita perhatikan untuk mempertahankan eksistensi kesehatan jiwa dan iman kita. 

Pertama, kita harus mengakui dengan jujur keterbatasan kita. Kita harus menerima fakta bahwa kita tidak selalu kuat, dan pada titik tertentu, kita bisa ambruk. Dalam beberapa kasus “mental breakdown” yang pernah terjadi, saya menyaksikan adanya ketidak mampuan kita untuk memahami tanda atau sinyal yang dibunyikan tubuh kita. Misalnya, kesulitan tidur yang berkepanjangan, kesukaran berkonsentrasi, pikiran yang berjalan dengan cepat ibarat balapan mobil atau perasaan yang naik turun tak terkendali namun lebih banyak turunnnya. Sesungguhnya, semua itu adalah “rambu-rambu lalu lintas” tubuh yang harus kita terima dengan lapang dada. Dan, sadar bahwa kita memerlukan bantuan ekstra dari luar. Dengan kata lain, kita sedang berada di ambang batas untuk dapat terus bertahan dengan waras. 

Kedua, kita mesti menyadari bahwa sebagian besar kekuatan kita sesungguhnya berasal dari topangan yang kita terima dari luar. Misalnya, orang-orang di sekitar kita atau lingkungan hidup yang mendukung. Kehilangan ketiga putrinya dan kematian putranya tidak meruntuhkan Spafford. Tetapi, tatkala gereja mencampakkannya, ia menjadi ambruk. Pengakuan secara pribadi, saya sehat seperti sekarang ini dikarenakan dukungan yang sungguh nyata dari banyak pihak. Keluarga yang terus mendukung pelayananan saya, gereja yang setia mendoakan saya, rekan-rekan hamba Tuhan yang selalu memberikan dukungan moral dan sebagainya. Saya kira hidup ini akan menjadi sangat lain jika semua unsur di atas ditarik ke luar dari dalam kehidupan saya. Dalam hal ini, kita perlu memelihara jalinan persahabatan yang baik dengan orang-orang di sekitar kita. Manusia yang hidup sendiri akan merusak dirinya sendiri. 

Sesungguhnya kita adalah orang yang tidak terlalu kuat; kekuatan yang kita miliki sebenarnya hanyalah sesaat dan sebatas kulit permukaan. Kita adalah makhluk sosial yang sangat memerlukan perhatian dan dukungan orang lain. Kita adalah penerima kekuatan dari pihak lain: Tuhan, orang lain, lingkungan hidup dan pekerjaan. Karenanya, kita harus menghargai semuanya itu. Kita layak bersyukur karena Tuhan bekenan memberikan semuanya itu kepada kita. 

Ketiga, kita juga harus sadar bahwa kewarasan kita merupakan anugerah atau hadiah dari Tuhan semata-mata. Bukan karena kehebatan atau kebaikan kita melainkan kasihNya yang terus dilimpahkan dalam hidup ini.

Syair lagu di atas mengingatkan kita bahwa hidup ini tidak selalu dipenuhi dengan kekuatan ekstra. Melainkan, ada saatnya kita lemah dan membutuhkan pertolongan TUHAN. Saat Anda lemah, datanglah kepadaNya sang Penjunan itu.

Solo, 01 Mei 2002
-Manati I. Zega-