Oleh Erry YS

Berulang kali pujian ini dilontarkan oleh Prof Andre de Quadros. Baik dalam pernyataan-pernyataan resminya maupun dalam ucapan informal dengan sesama pembicara dan peserta the 2nd Symposium on Church Choral Music yang berlangsung di Bandung, 19-22 Juni. ”Bandung kembali membuktikan kemampuan dirinya sebagai pusat seni musik berartistik tinggi, tidak hanya untuk Indonesia, tapi juga kawasan ini, khususnya di bidang paduan suara,” tutur Andre yang adalah Direktur Jurusan Musik Boston University, AS.Indonesia memang patut diperhitungkan.”

Pujian itu antara lain merujuk suksesnya penyelenggaraan simposium, terutama pertunjukan Mass in C Minor, KV 427 karya Mozart sebagai konser pembuka (yang merupakan penampilan perdana di Asia Pasifik dan ke-9 di dunia) dan Requiem opus 48 karya Gabriel Faure sebagai konser penutup. Ini menyusul segudang pertunjukan atau prestasi lain berkaliber internasional yang diprakarsai atau diraih oleh putra-putri Indonesia.

Pada Choir Olympic 2004 di Bremen, Jerman, Indonesia berhasil mencatatkan diri sebagai negara berperingkat keenam di dunia. Pada event yang diikuti 350 paduan suara dari 73 negara itu, Paduan Suara (PS) Gema Sangkakala yang didirikan 12 Juli 1987 di bawah asuhan Ir Wenny Pantouw, meraih Gold Medal untuk kategori Mixed Chamber Choir dan Silver Gold Medal untuk kategori Musica Sacra Acapella.
Sementara itu, Elfa Secioria Choir memboyong dua Olympics Champion dalam kategori Pop dan Jazz (dengan iringan), serta tiga Gold Medal untuk kategori Pop, Jazz, dan Folklore (dengan iringan).

Sejumlah lagu hasil ciptaan/aransemen putra-putri Indonesia juga sering mendapat penghargaan dunia. Kabar terbaru adalah, lagu khas Sumatera Utara, Siksik Si Batu Manikkam (hasil aransemen Pontas Purba), lagu khas Bali Janger (aransemen Budi Susanto Yohanes), dan Toki Gong (karya Christian Tamaela) terpilih sebagai the (world) earthsongs.

Memang tidak berlebihan menyebut Indonesia ladang yang subur bagi pengembangan musik dunia, khususnya musik gerejawi. Bukan mustahil, Indonesia bisa menjadi salah satu pusat baru pengembangan musik di Asia Pasifik. Masalahnya, bagaimana ”ladang” yang subur itu terus dikelola dengan baik agar hasilnya meningkat. Jika ladang pertanian adalah analoginya, ladang itu seyogianya diberi pupuk, disehatkan dari hama, hasilnya dipanen berkala dengan pangsa pasaran yang jelas dan seluas mungkin, dan sebagainya.

Penyadaran
Pujian Andre merupakan penyegaran sekaligus penyadaran, dan direspons dengan optimisme sekaligus keraguan di kalangan pemerhati musik yang mendengarnya. Pontas Purba, misalnya, melihat
Indonesia memang potensial, antara lain karena memiliki begitu banyak etnis dan subetnis, masing-masing dengan segala keunikannya. Dia menyebut Indonesia sebagai ”Asia mini”. Juga kini banyak lahir pemusik-pemusik berbakat di Tanah Air.

”Masalahnya, sejauh mana optimisme itu bisa diimbangi dengan usaha untuk mewujudkannya,” kata pencipta lagu dan anggota Tim Inti Nyanyian Gereja (TING) Yayasan Musik Gereja (Yamuger) itu.
Di satu sisi, Purba melihat dunia musik
Indonesia sebetulnya menyedihkan karena selama ini kurang serius digarap. Banyak yang bisa bernyanyi atau memainkan alat musik, tapi kebanyakan masih sekadar bernyanyi atau bermain musik (tanpa passion). Musik belum sepenuhnya dihargai di sekolah-sekolah. Klat atau partitur kurang terlindungi Hak Karya Cipta. Berbagai pihak (dengan berbagai kepentingan) begitu bebasnya memperbanyak dan mendistribusikan score musik. ”Jangan heran kalau di sini kita melihat orang main musik di kafe, padahal dulunya sekolah musik klasik,” kata Purba. ”Menyedihkan.”

Purba juga menunjuk tersendatnya pengembangan musik etnik bagi gereja sebagai contoh konkret tentang bagaimana musik kurang direspons di Indonesia. Masyarakat gereja sejauh ini menganggap lagu-lagu rohani asal Eropalah yang merupakan musik yang indah. Misalnya lagu-lagu rakyat Jerman (Deutschland volks lieden) yang oleh Marthin Luther (pada masa reformasi di sana) banyak diangkat menjadi lagu-lagu gereja.
”Kita seharusnya mampu merespons Tuhan dengan lagu-lagu pujian yang diangkat dari musik-musik etnik setempat (musica in loco),” kata Purba. Meskipun, tambahnya, ini pekerjaan yang tidak mudah dan harus dilakukan hati-hati. Menjadi tugas Yamuger dan badan-badan terkait untuk menjawab tantangan ini.
Seperti pernah dikatakan oleh Andre, bahwa sebuah visi dan mimpi pasti bisa terwujud menjadi fakta jika disertai konsep yang jelas, kemauan, dan upaya yang kuat, serta kerjasama yang baik untuk mewujudkannya. Itu sudah dibuktikan oleh Tommyanto Kandisaputra, Presiden Bandung Choral Society dan Studio Cantorum Bandung, beserta rekan-rekannya, yang berhasil mewujudkan simposium sebagai wadah ilmiah musik gereja berskala nasional dengan pembicara internasional. Ini suatu prestasi melegakan, karena lahir di tengah aneka kondisi memprihatinkan di Tanah Air.

”Kita harus bersyukur karena masih bisa menciptakan musik di tengah kondisi seperti sekarang. Orang tidak akan dapat membuat musik jika dia lapar, tidak memiliki tempat berteduh, atau merasa terancam,” kata Andre. Maka, apakah pujian Andre itu bakal melahirkan prestasi-prestasi lain, itu semua berpulang pada kita sendiri. Apakah kita masing-masing mau dan mampu memaksimalkan karya-karya kita, dengan segala talenta dari Tuhan, untuk kemuliaan namaNya? Kita mungkin memiliki talenta berbeda. Tapi kita memiliki panggilan yang sama sebagai umat Tuhan, yakni menghasilkan karya-karya yang baik untuk kebaikan bersama. Apakah kita mempunyai mimpi yang sama bahwa hidup kita hendaknya bermakna, tidak berlalu seperti debu yang diterbangkan angin, atau rumput yang hari ini ada dan besok kering dibakar dalam api?

Penulis adalah pencinta musik, anggota Paduan Suara Talenta Jakarta

Copyright © Sinar Harapan 2003