Masih tentang 1st Asian Choir Games

Selasa, 13 Nov 2007,
Ketika Tim Paduan Suara Indonesia Sukses di Tingkat Asia (1)
Dengar “Indonesia Raya”, Menangis sambil Berpelukan
Indonesia berhasil membuktikan kehebatannya di dunia paduan suara internasional dengan mendominasi perolehan gelar juara pada The 1st Asian Choir Games.

Banyak cerita menarik di balik kemenangan itu. Seperti apa?
ERIKA OCTAVIANA SARI
Suasana Hall D, Jakarta Internasional Expo, Kemayoran, Jakarta Pusat akhir pekan lalu, mendadak riuh. Ribuan orang yang berasal dari delapan negara yakni Tiongkok, Rusia, Korea Selatan, Thailand, Srilangka, Malaysia, Filipina dan Indonesia berkumpul menjadi satu. Sorak sorai menyerukan nama negara dan kibaran bendera masing-masing membuat suasana semakin meriah. Ada apa sebenarnya?
Pagi itu, 10 November, ternyata akan diumumkan siapa saja pemenang The 1st Asian Choir Games atau pertandingan paduan suara bertaraf olimpiade bagi penyanyi amatir se-Asia Pasifik. Ajang yang baru digelar untuk pertama kalinya itu diikuti 200 kelompok paduan suara dari dalam negeri dan 127 kelompok.
Pada ajang tersebut, mereka memperebutkan gelar juara dari 21 kategori yang dilombakan. Beberapa diantaranya, Children’s Choirs, Mixed Chamber Choirs, Mixed Vocal Ensambles, Musica Sacra, Large Male Choirs dan Musica Contemporanea.
Tepat pukul 10.00 WIB, satu per satu pemenang diumumkan. Derai tepuk tangan dan sorak kegembiraan tak henti-hentinya berkumandang. Air mata pun tak tertahankan begitu nama kelompok paduan suara tempat mereka bernanung diumumkan sebagai sang juara. Seperti yang terjadi ketika nama Manado State University Choir (MSUC) dinyatakan sebagai juara untuk kategori Musica Sacra.

Paduan suara yang diwakili 31 orang itu pun langsung menyerbu ke atas panggung untuk menerima medali dan tropi. Alunan lagu Indonesia Raya plus pengibaran Sang Saka Merah Putih tak ayal membuat suasana haru makin terasa.
Toldy Tamunu, ketua MSUC mengaku, tidak menyangka grupnya terpilih menjadi juara untuk kategori tersebut. Maklum, saat kompetisi yang berlangsung 8 November lalu MSUC harus berhadapan dengan 15 grup lainnya, yang dianggapnya tak kalah tangguh. “Senang sekali, nggak kebayang. Sempat pesimis karena depresinya (tekanannya, Red) besar banget, lawannya hebat-hebat, apalagi di Musica Sacra kita tampil duluan, beban sekali,” ujarnya seraya menyeka sisa air mata di pipinya.
Selain untuk kategori Musica Sacra, MSUC juga berhasil merebut mahkota kemenangan untuk kategori Popular Choir Music. Mengikuti festival paduan suara internasional bukanlah hal baru bagi MSUC.
Sebelumnya, mereka sempat menunjukkan kebolehannya di ajang Busan Apec Chorale Festival and Competition 2006 dan The 4th World Choir Games di Xianmen, Tiongkok pada tahun yang sama. Sayangnya, mereka gagal menjadi juara, hanya berhasil mendapat diploma emas, medali perak dan perunggu.

“Persiapan kita untuk ikut Asian Choir Games ini, 4-5 bulan, seminggu 6 kali, latihannya siang malam. Capek, sempat jenuh, tapi karena kita ingin menang, ya dijalanin aja,” terang Todly. Jadwal latihan yang padat memang menjadi aktivitas sehari-hari para peserta. Meski terkadang melelahkan dan membosankan, tapi toh tetap dijalankan juga. Keinginan untuk menang lebih besar ketimbang rasa lelah yang mendera.
“Kita latihan 8 bulan. Seminggu sebelum manggung pun kita masih latihan. Habis sarapan, selesai istirahat siang, sama habis makan malam. Tapi semuanya tidak percuma. Kita sangat bangga akan kemenangan ini,” tutur Wenny Pantouw dari North Sulawesi GMIM Male Choir. Hari itu, paduan suara yang dipimpinnya merebut gelar champion (nilai tertinggi) untuk kategori Large Male Choirs.

Kegembiraan yang tak kalah besarnya juga dirasakan Mecky Panie, ketua Mazmur Chorale Kupang. Grup paduan suara yang terbentuk sejak 5 tahun lalu itu berhasil menyabet juara di kategori Mixed Chamber Choirs. Mecky memang patut berbangga hati, karena The 1st Asian Choir Games merupakan kompetisi paduan suara berskala internasional pertama yang diikutinya. Sebelumnya, Mazmur Chorale Kupang hanya mengikuti kompetisi paduan suara tingkat kabupaten.
Apalagi, kata Mecky, banyak kendala yang harus di hadapinnya dan 22 temannya sebelum akhirnya sampai di Jakarta. “Kita butuh Rp 150 juta untuk sampai ke sini. Untuk kostum, transportasi, penginapan, pendaftaran, uang saku,” tukasnya.
Ia mengatakan, sebenarnya pihaknya sudah melayangkan proposal kepada pemerintah kota Kupang. Tetapi, hanya ditanggapi dingin oleh sang petinggi. Keinginan Mazmur Chorale Kupang tampil di The 1st Asian Choir Games dianggap hanya sebuah mimpi belaka.
Namun, hal itu tidak lantas membuat Mecky dan teman-temannya patah arang. Semangatnya justru semakin berkobar, hasrat untuk membuktikan kemampuan yang dimiliki semakin besar. Menurut Mecky, butuh waktu selama 8 bulan untuk mengumpulkan dana tersebut. Mentas dari satu panggung ke panggung lainnya pun dijabani demi memuluskan mimpi mereka.
“Kita kerja selama 8 bulan, tujuh belasan kita nyanyi. Puji Tuhan, ada aja kerjaan kita. Lima hari sebelum berangkat, masih kurang Rp 20 jutaan. Jadi, tiga hari sebelum jalan, kita bikin konser. Dari situ banyak donatur yang nyumbang.”
Masalah dana terselesaikan. Tapi itu belumlah usai. Karena begitu sampai ke Jakarta, beberapa temannya termasuk dirinya jatuh sakit. Hal itu, tentu saja mempengaruhi penampilan Mazmur Chorale Kupang di atas panggung. “Banyak yang sakit. Karena perubahan cuaca, jadi ada yang masuk angin, flu, batuk. Ada juga yang sakit maag, mungkin karena banyak pikiran, terlalu tegang nunggu waktu tampil dan hasilnya, jadi nggak nafsu makan. Karena dipaksain, kita tampil nggak maksimal. Kayaknya, saat latihan lebih bagus daripada waktu tampil,” katanya seraya tersenyum.
Penderitaan pun semakin lengkap karena beberapa diantara mereka harus menahan rasa ingin buang air kecil saat tampil. “Karena ruangan ber-AC, kita banyak yang mau pipis. Kita tampil pakai kostum adat, dari 22 kabupaten di Kupang. Karena ribet mau buka-bukanya, jadi ya kita tahan aja,” kenangnya lantas tertawa. Meski harus menghadapi berbagai rintangan, usaha mereka tidak sia-sia. Sepuluh pesaing yang tak kalah hebatnya berhasil disingkirkan.
Atas keberhasilan tersebut, begitu kembali ke Kupang hari ini, mereka akan diarak keliling kota. “Sudah ada perjanjian dengan donatur, kalau bisa buktiin kita akan diarak keliling kota, lalu menuju kantor gubernur. Mereka akan jadi sponsor utama kita untuk ikut ajang World Choir Games,” bebernya.
Ya, prestasi yang berhasil ditorehkan semakin memantapkan langkah mereka untuk berkompetisi di ajang yang lebih besar, World Choir Games yang akan digelar di Austria tahun depan.
Selain MSUC dan Mazmur Chorale Kupang, masih ada lima paduan suara asal Indonesia yang meraih gelar champion (nilai tertinggi). Vocalista Angels Klaten (Children’s Choirs), Gema Sangkakala Choir Manado (Mixed Youth Choirs), Bitung City Chorale (Music of The Religions, Elfa Music School Jazz Youth Choir (Jazz) dan Voice of YPJ (Folklore).

Sumber: http://www.topix.com/forum/world/malaysia/TVC9KQO48SDQBU1DU

Cok Lie

Jakarta, Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s