mow01-440.jpg “SAYA mempunyai suatu impian. Suatu impian yang berakar mendalam di dalam impian orang Amerika. Saya punya sebuah mimpi bahwa di satu hari nanti di perbukitan merah Georgia, anak-anak bekas budak dan anak-anak bekas pemilik budak duduk bersama dalam meja persaudaraan. Saya bermimpi pada suatu hari nanti bangsa ini akan bangkit dan mengamalkan makna sejati kepercayaannya yang lebih besar daripada warna kulit…”

MARTIN Luther King Jr, tokoh pejuang hak-hak sipil berkulit hitam yang sangat terkenal itu, seperti hidup kembali di ruang kebaktian Gereja Baptis Monumental Memphis, Tennesse, AS, di penghujung bulan Mei lalu. Meskipun rangkaian kata yang dicuplik dari pidato King Jr saat ia berorasi di depan lebih dari 200.000 orang yang berunjuk rasa di Washington pada tahun 1963 itu hanya diucapkan kembali oleh tokoh pemeran King Jr, namun aroma dan semangat yang memenuhi ruang kebaktian seperti membangkitkan kembali sosok Martin Luther King Jr yang sesungguhnya. Tiap kali kata-kata “I have a dream” diucapkan oleh pemeran sang tokoh legendaris dalam drama tiga babak itu, terdengar sambutan tak kalah bersemangat: “Yeah… yeah… yeah!”Para jemaat kulit hitam itu bagai larut dalam “permainan” yang mereka ciptakan sendiri. Meski plot dari cerita itu sudah mereka ketahui sejak orang- orang kulit hitam mengenal kerasnya kehidupan, jalan menuju klimaksnya tetap menjadi misteri yang mencekam. Begitu tokoh pemeran King Jr turun dari panggung, dan suara warta berita dari satu stasiun radio diperdengarkan, para jemaat terdiam seperti menahan napas. Isi berita itu cukup menyentak, bahwa sang tokoh telah ditembak saat berada di balkon Motel Lorraine di kawasan Mulberry Street, Memphis. Suara sirene pun memenuhi ruang. Penerangan berangsur diredupkan. Musik dihadirkan muncul dalam nada pelan namun terdengar menyayat. Namun, suasana hening itu tak dibiarkan berlangsung lama. Lampu-lampu kembali dinyalakan. Bersamaan dengan itu, lagu We Want Feedom pun berkumandang dalam irama riang. Penuh energi! (Masih ingatkah pembaca pada gaya dan penampilan paduan suara gereja yang keluar dari pakem dalam film Sister Act yang dibintang Whoopi Goldberg?). Dan, begitu We Want Freedom rampung dinyanyikan oleh kelompok paduan suara gereja berpakaian sangat sederhana itu, suara gemuruh memenuhi ruang. Wow! Wow! Wow!

Diselingi teriakan-teriakan kecil, tepuk tangan terdengar riuh. Anggota jemaat berdiri memberi aplaus panjang atas penampilan paduan suara gereja itu, yang menandai akhir dari drama tiga babak tentang sejarah panjang orang-orang kulit hitam di AS, sekaligus menutup acara kebaktian di gereja bersejarah di kawasan 704 South Parkway East, Memphis, tersebut. (disadur dari indonesiamedia.com)