Zaman Baroque (ca.1600-1750)

Pada akhir zaman Renaissance beberapa musikus mulai mendiskusikan kondisi musik Renaissance yang seperti kita sudah bahas, punya suatu form dan struktur yang sangat kompleks dan tinggi namun dirasa sangat kurang dalam hal ekspresi. Musik Renaissance yang pada awalnya bertujuan untuk melahirkan kembali kejayaan musik dari zaman Greco-Roman  mulai dirasa tidak menghasilkan efek yang sama. Konon Iskandar Agung pernah melompat keluar dari tempat tidurnya, kemudian mengenakan pakaian perang dan menyandang pedang, karena mengira musuh datang menyerang ketika ia mendengar musik Yunani Kuno. Komponis zaman transisi ini lalu mulai mencoba untuk mengaplikasikan ekspresi dalam musik. Mereka ingin membuat suatu musik baru, yang prioritasnya adalah untuk mengekspresikan suatu afeksi tertentu. Claudio Monteverdi menamakan gerakan ini sebagai The Second Practice, yaitu tidak lagi teks dianggap sekunder terhadap musik, tapi justru sekarang melodi, harmoni, dan ritme harus mengikuti teks,(5) mengikuti ide dari Plato.(6) Dalam musik chorale zaman Renaissance musik digubah terlebih dahulu, dan teks dimasukkan kemudian. Dalam zaman Baroque, musik digubah mengikuti teks. Afeksi dari teks tersebut menentukan sifat musiknya, misalnya jika teksnya menceritakan kegembiraan, musiknya menggunakan tangga nada mayor, dan jika menceritakan kesedihan, menggunakan tangga nada minor. Bukan hanya demikian, setiap nada, ritme, chord yang digunakan benar-benar dipilih untuk menyatakan arti dari teks (atau konteks, dalam musik instrumental) yang dipakai. Dalam periode transisi seperti ini biasanya ada dua kemungkinan besar yang terjadi; yang pertama, aliran yang baru adalah hasil buah pemikiran aliran yang lama dan merupakan langkah progres; yang kedua, aliran yang baru mendobrak secara kasar dan menghancurkan total school of thought yang lama. Ada suatu miskonsepsi di dunia kalangan musikus yang mengganggap semangat gerakan Baroque yang mementingkan ekspresi telah menghancurkan semangat gerakan Renaissance yang pada dasarnya lebih mementingkan konstruksi daripada ekspresi. Namun kalaupun seandainya Renaissance adalah form over function, musik Baroque bukanlah function over form. Komponis zaman Baroque memang mengarahkan musik ke arah ekspresi dan sungguh memprioritaskan meaning, tetapi mereka tidak menolak inti musik Renaissance dan justru menggunakan pengetahuan dan teori-teori tentang komposisi musik seperti counterpoint, tonalitas, voice-leading yang sudah begitu advanced dari zaman Renaissance. Hal ini membuat transisi Renaissance- Baroque sangat berbeda dengan Romantic-Modern yang begitu kasar dan pada akhirnya boleh dibilang menghancurkan sistem komposisi yang sudah bertahan ratusan tahun. Transisi Renaissance-Baroque lebih bersifat improvement.(7) Berikutnya kita akan melihat bagaimana musik Baroque berbeda dari musik Renaissance. Saya akan mengambil sedikit contoh dari Oratorio Messiah yang digubah oleh Handel, yaitu bagian yang menceritakan saat-saat akhir Kristus di atas kayu salib.

contoh-baroque-1-copy.jpg
Ketukan: 1 2 3 4 1 2 3 4

Ketukan: 1 2 3 4 1 2 3 4 Dalam birama 4/4, ada suatu ordo natural yang kita sebut dengan strong-beat dan weak-beat. Misalnya, dalam 4 ketuk tersebut yang terasa kuat adalah ketukan 1 dan 3, sedangkan ketukan 2 dan 4 lebih lemah. Hal yang mirip juga terdapat dalam speech, dalam suatu kata ada suku kata yang kuat, ada yang lemah. Misalnya kalau kita mengatakan “Ibu”, suku kata “bu” lebih kuat daripada suku kata “i” bukan? Musik Baroque dalam menentukan ritme dan penempatan teks sangat memperhatikan hal yang sekecil ini. Dalam contoh di atas kita melihat teks “Thy rebuke hath broken His heart”. Kalau saya menulis teks ini dengan huruf besar sebagai suku kata yang kuat dan huruf kecil sebagai yang lemah sesuai dengan cara pengucapan bahasa Inggris yang tepat akan tertulis seperti ini : “thy re-BUKE, hath BRO-ken his HEART” Kalau kita kembali ke contoh musik di atas, Handel dengan tepat menempatkan suku kata yang kuat di ketukan yang kuat, yaitu ketukan 1 dan 3. Dari segi melodi, arah dan besarnya perubahan nada juga sangat ditentukan oleh teks. Di birama pertama kalimat “Thy rebuke”, suku kata “Thy” dan “re-“ memakai nada yang sama, namun suku kata “-buke” mengambil not yang lebih tinggi, efek yang dihasilkan membuat suku kata “-buke” lebih kuat daripada kalau sama tinggi. Word-painting kata “broken” mengambil not yang satu oktaf lebih rendah dari “rebuke” sehingga menghasilkan suatu kontras yang dengan sederhana namun jelas mengungkapkan arti kata-kata tersebut, rebuke yang berarti memukul dinyanyikan dengan tinggi, dan broken yang berarti hancur, dinyanyikan dengan rendah. Secara harmoni, chord pada ketukan pertama adalah chord As mayor, tetapi langsung berubah menjadi chord G diminish 7 tepat pada suku kata “-buke” dan akhirnya menjadi F minor di kata “heart”. Dalam ilmu chord harmoni kita mengenal ada 4 jenis chord dasar yaitu mayor, minor, augmented, dan diminish. Kita sudah mengetahui mayor terdengar lebih bebas dan ceria, dan minor terdengar lebih sedih. Chord diminish adalah chord yang lebih sempit dan lebih sedih daripada minor, dan augmented adalah chord yang terdengar lebih lepas daripada chord mayor. Kalau kita menganalisa progresi chord di atas, kita akan mendapatkan diagram seperti ini:

contoh-baroque-2-copy.jpg

Kita bisa melihat Handel dengan tepat memilih perubahan dari ceria (mayor) ke kesusahan (diminish 7) untuk menggambarkan kalimat “Thy rebuke”, dan memberi chord minor yang sedih untuk mengatributkan afeksi kesedihan tersebut ke kata “heart”. Ini baru pembahasan 2 bar pertama dari suatu lagu yang panjangnya 18 bar, dan lagu itu hanya satu dari 51 nomor lagu dalam oratorio Messiah. Dari contoh ini kita bisa melihat bagaimana Handel benar-benar menentukan melodi, harmoni, dan ritme dari afeksi teks yang hendak diekspresikan. Memang musik Baroque tidak semuanya bentuknya padat seperti ini, tapi konsep dasarnya adalah sama, yaitu afeksi teks menentukan musik yang digubah. Untuk saya pribadi, musik Baroque adalah musik yang paling tepat untuk digunakan di dalam ibadah. Kalau musik Renaissance adalah musik yang tinggi namun lebih sulit untuk dimengerti, maka musik Baroque adalah musik yang tinggi juga karena mengambil dasar konstruksinya dari musik

Renaissance, tetapi jauh lebih mudah dimengerti karena menggunakan teknik itu untuk mengekspresikan meaning. Siapa di antara Saudara-saudara yang sudah mendengar lagu Hallelujah dari Oratorio Messiah dan tidak langsung mengerti meaning yang hendak disampaikan? Musik ini mempunyai suatu prinsip Alkitab yang kita dapat dari teladan Kristus: Transenden dan Inkarnasional. Allah kita adalah Allah yang Mahasuci, Mahakuasa. Tapi Ia juga adalah Allah yang berinkarnasi, turun ke bumi menjadi sama dengan ciptaan tanpa kehilangan transendensi-Nya. Seringkali gereja-gereja zaman sekarang berusaha menjangkau keluar dengan cara menurunkan derajat tubuh Kristus: karena pemuda zaman sekarang suka musik yang tidak bermutu maka atas nama penjangkauan musik-musik demikian dijadikan musik ibadah. Apakah demikian teladan dari Kepala Jemaat? Kristus menjangkau keluar, Ia bahkan mau turun ke dunia dan mati di atas kayu salib. Namun Kristus tidak ikut turun ke tingkat manusia berdosa. Ia justru mengangkat manusia berdosa keluar dari kebinasaan. Musik yang agung, yang tinggi, namun juga adalah musik yang mendidik, itulah musik yang seharusnya kita cari dan pakai untuk kemuliaan Tuhan. Soli Deo Gloria.

Sumber Majalah Pillar50Buletin Pemuda Gereja Reformed Injili Indonesia September 2007Penulis Jethro Rachmadi Pemuda MRII Melbourne Endnotes1. Numeral = berdasarkan angka, Aural = berdasarkan persepsi pendengaran.

2. Konsonans berarti interval yang stabil, disonans adalah interval yang kurang stabil. Dalam musik biasanya disonans beresolusi menjadi konsonans, misalnya

contoh-baroque-3-copy.jpg

Progresi ini akan terdengar bergerak dari yang tidak stabil ke posisi yang lebih stabil.3. Counterpoint tidak terlepas dari prinsip harmoni, namun boleh dimengerti sebagai teknik komposisi yang lebih terfokus ke dalam hubungan linear (secara kronos) daripada hubungan vertikal (secara kairos). Metode komposisi karya seperti ini, khususnya pada awalnya, lebih mengandalkan hubungan numeral antar melodi dibanding teknik komposisi harmoni yang lebih memakai segi aural.4. Rick Warren, Purpose Driven Church, 281-825. “It has been my intention to make the words the mistress of the harmony, not its servant”, Claudio Monteverdi, Fifth Book of Madrigals.6. Plato dalam teks dialognya “Republic” mengatakan melodi terdiri dari teks, ritme, dan harmoni, dan bahwa harmoni dan ritme harus mengikuti teks, bukan sebaliknya.7. Monteverdi, misalnya, tidak menyebut gerakan yang baru sebagai “The New Practice” atau “The True Practice” tapi “The Second Practice” sebab mengambil prinsip dari “The First Practice” yaitu musik Renaissance.