Musik dalam periode ini juga memiliki natur estetika yang mengutamakan keteraturan dan  simplisitas tersebut. Saudara saudara yang pernah mendengar musik Mozart dan membandingkannya dengan Bach akan langsung menyadari perbedaan ini. Musik Bach adalah musik yang sangat kompleks, jika dibahas bisa tidak habis-habis dari segi meaning, teknik musik, atau strukturnya. Sebaliknya, ada suatu lelucon mengenai musik Mozart: orang awam dapat mengagumi Mozart meskipun tidak tahu entah kenapa.

polyphony.jpg

Hal ini dapat terjadi karena musik periode Klasikal mendasarkan teknik komposisinya dalam prinsip estetika rasionalis yang melihat beauty di dalam balance, clarity, and simplicity. Jika musik zaman Renaissance dan Baroque banyak menggunakan counterpoint dan polyphony, musik Klasikal mulai mengarah pada penggunaan teknik harmoni atau homophony yang lebih mudah dicerna: satu melodi yang diiringi oleh suara lain. Prinsip counterpoint tidak dibuang pada zaman ini namun penggunaannya berkurang dan kadang justru digunakan untuk merepresentasikan keadaan yang kurang teratur. Misalnya dalam oratorio The Creation karya Haydn ada suatu lagu choir yang menceritakan keadaan ciptaan setelah penciptaan terang. Dalam lagu ini Haydn menggunakan progresi dari keadaan yang kacau menggunakan polyphony (dengan teksnya “Despairing, cursing rage, attends their rapid fall”) kepada keadaan yang teratur yang menggunakan homophony (dengan teksnya “A new created world; springs up from God’s command”). Kalau diperhatikan pasti bisa tertebak teknik komposisi mana yang terdengar lebih teratur. Maka karena sifatnya yang lebih cocok dengan estetika rasionalis dalam periode ini homophony menjadi teknik komposisi yang lebih banyak digunakan. Pengaruh Rasionalisme bukan hanya masuk ke dalam teknik komposisi namun juga struktur suatu komposisi. Hal ini bukan baru ditemukan dalam periode Klasikal, Vivaldi (komposer zaman Baroque) mengatakan dalam musik harus ada predictability, salah satu aesthetic pleasure dalam musik dapat timbul dari ekspektasi yang terpuaskan. Contohnya suatu refrain dalam lagu hymn, refrain tersebut tidak dinyanyikan terus-menerus namun dinyanyikan selang satu ayat. Ada suatu kepuasan tertentu sewaktu kita kembali menyanyikan refrain yang sama dan sudah diketahui bukan? Maka dalam musiknya, Vivaldi biasanya menggubah suatu ritornello (kata refrain berasal dari kata ini) yang muncul beberapa kali di dalam suatu karya. Bentuk ini dinamakan concerto dan menjadi sangat popular. Periode Klasikal meneruskan strukturisasi ini, dan bentuk-bentuk seperti Sonata, Symphony, String Quartet yang kita kenal pada zaman ini adalah hasil standardisasi pada periode Klasikal. Misalnya Sonata pada zaman sebelumnya hanya berarti ”untuk berbunyi”5 namun pada zaman Klasikal kata Sonata menunjuk khususnya pada Sonata form, yaitu struktur musik yang mengatur progresi suatu karya dalam tangga nada yang berbedabeda sehingga terdengar jelas dan teratur6. Di manakah tempat musik seperti ini dalam kehidupan kita? Apakah musik yang prinsip estetikanya terpaku erat dalam rasionalitas dapat kita pertanggungjawabkan sebagai ciptaan Tuhan yang seharusnya mencari prinsip estetika dari Alkitab? Tidak hanya itu saja; kalau dalam zaman Renaissance dan Baroque masih banyak komponis-komponis yang takut akan Tuhan seperti Palestrina, Lassus, Schütz, atau Bach, maka dalam periode Klasikal komponiskomponis besar seperti Mozart dan Beethoven hidupnya tidak beres; Mozart menganut Freemason, Beethoven sangat dipengaruhi Pantheism; Haydn mungkin perkecualian, tetapi ia seorang Katolik. Di sinilah kita dapat belajar mengaplikasikan prinsip bahwa segala kebenaran adalah kebenaran Allah. Rasio adalah ciptaan Allah; lewat prinsip penciptaan kita sekali lagi melihat bahwa hubungan keteraturan, keseimbangan memang adalah kebenaran Allah. Musik yang memakai prinsip demikian jelas bukanlah musik yang salah. Kedua, dalam kedaulatan Tuhan, berkat yang hendak Ia berikan pada manusia tidak akan berubah hanya karena motivasi manusia yang terpengaruh oleh dosa. Mozart mungkin tidak mempunyai kepercayaan yang benar, namun sadar tidak sadar dalam karyanya ia telah menuruti prinsip wahyu umum yang Tuhan berikan. Dalam artikel edisi lalu Saudari Stanly Maria sudah menjelaskan mengenai hal ini. Namun kalau prinsip rasio adalah kebenaran Allah, bukankah itu berarti musik Klasikal adalah musik yang tertinggi? Musik mana lagi yang lebih jelas mengutarakan keteraturan daripada musik yang digubah berdasarkan prinsip keteraturan tersebut? Paulus dalam 1 Korintus 14:33 mengatakan, “For God is not a God of disorder but of peace.” Jelas disorder bukan kebenaran, tapi Paulus tidak mengkontraskannya dengan order melainkan dengan peace (terj. Ind. “damai sejahtera”). Allah kita bukan Allah yang kacau tapi juga bukan Allah yang “hanya” teratur. Kalau Saudara melihat mesin bekerja, ada keteraturan dan order, tapi di manakah damai? Rasio memang adalah kebenaran Allah, tapi rasio bukanlah keseluruhan kebenaran apalagi kebenaran yang tertinggi. Dengan menjadikan rasio sebagai penentu utama konsep estetika, musik Klasikal telah kehilangan banyak aspek yang melampaui rasio.7 Salah satu alasan mengapa oratorio The Creation adalah musik yang sangat baik adalah karena prinsip keteraturan sangat nyata dalam topik penciptaan. Tapi karyanya yang lain, The Seven Last Words of Christ, jika dibandingkan dengan St. Matthew Passion karya Bach tetap berbeda jauh.8 Kesedihan yang Bach utarakan menembus batas rasio, sedangkan kesedihan dalam karya Haydn terkesan dibatasi logika dan proses kognitif.  Sekali lagi, saya harap kita tidak terjatuh dalam ekstrimisme penolakan total (atau juga penerimaan total). Harapan saya adalah supaya kita boleh belajar menilai seni, budaya, dan ilmu-ilmu di bawah terang Firman Tuhan. Hal ini bukan hanya berarti melihat apa yang sesuai dengan Alkitab dan apa yang tidak, tetapi juga berarti menempatkan segala sesuatu pada tempatnya. Sebagaimana manusia yang jatuh dalam dosa telah ditebus, demikianlah kita harus melihat musik sebagai budaya yang tidak terlepas dari korupsi dosa, dan dengan tanggung jawab kita harus menebusnya kembali dalam kebenaran Allah. Pada edisi berikutnya kita akan melanjutkan pembahasan kita memasuki zaman Romantik, yaitu suatu respon terhadap Gerakan Klasikal: menolak rasio sebagai satu-satunya otoritas dalam segala sesuatu. Kiranya Tuhan membukakan pikiran kita sehingga peka dalam melihat kejatuhan manusia di bidang musik. 

Jethro Rachmadi (Pemuda MRII Melbourne)

Endnotes:

1. Istilah musik “klasik” adalah istilah yang sedikit bermasalah karena dapat digunakan untuk menunjuk kepada seluruh musik dalam empat zaman yang kita bahas (edisi September – November 2007). Istilah Klasik sendirisebenarnya menunjuk pada budaya Yunani Kuno. Dalam artikel ini saya akan menggunakan istilah “Klasikal” untuk menunjuk kepada gerakan Klasik di abad ke-18. 

2. Dr. Faustus berkisah tentang seseorang yang menjual jiwanya kepada setan. Salah satu tema yang disodorkan dalam kisah ini adalah bagaimana manusia terjatuh ke dalam fatalisme penghukuman dosa; Dalam pikiran Faust semua manusia berdosa dan tidak mungkin luput dari hukuman, maka ia tidak mencari pengampunan dalam hidupnya tapi menempatkan setan di tempat Tuhan. 

3. Rasionalisme harus dibedakan dari Rasional. Bersikap rasional berarti memakai rasio, tapi Rasionalis berarti menempatkan rasio di atas segala sesuatu. Orang Kristen seharusnya rasional tapi tidak rasionalis. 

4. Ulangan 32:15 

5. Sonata = “to sound”, untuk dibedakan dengan Cantata = “to sing”. Sonata pada zaman tersebut hanya berarti suatu musik yang diperuntukkan untuk instrumen, bukan untuk penyanyi. 

6. Sonata form secara dasar terdiri dari 3 unsur: Exposition, di mana satu atau dua tema diperkenalkan di tangga nada awal dan memasuki tangga nada dominant (berjarak perfect 5th, kalau awalnya di C maka masuk ke G).Development, tema-tema yang sudah diberikan dikembangkan, misalnya ditambahkan atau dikurangi, dan biasanya dalam section ini masuk ke beberapa tangga nada yang berbeda. Recapitulation, yaitu kembali ke materi exposition tapi secara keseluruhan berada di tangga nada awal dan mengakhiri seluruh piece di tangga nada tersebut. Struktur seperti ini membuat suatu musik terdengar sangat teratur karena meskipun materinya sangat bervariasi semuanya didasarkan kepada beberapa tema saja. 

7. Tentunya tidak hilang secara total, namun jika dibandingkan dengan musik Baroque yang sangat ekspresif atau musik Romantik yang sangat dramatis dan emosional, musik Klasik bisa cenderung mekanikal.  

8. Saya membandingkan dua karya ini atas dasar subject matter yang masih dalam satu kategori, yaitu kisah penyaliban Tuhan Yesus.