Sangat sulit bagi seorang musikus jika ia mau mencari nafkah secara independen, pada waktu tersebut prinsip copyright belum secara luas diterapkan. Tetapi Beethoven mendobrak hal ini, ia memanfaatkan Merkantilisme yang mulai bertumbuh dan berhasil menjadi musikus yang independent lewat konser-konser dan juga royalti dari penerbitan dan penjualan partitur karyanya. Seniman dan musikus yang lain pun mulai hidup dengan cara demikian. Kebebasan ini membuat untuk pertama kalinya dalam sejarah para seniman bebas; musik karya mereka tidak lagi digubah menurut selera publik umum, musik telah menjadi aktualisasi diri mereka. Langkah-langkah ini telah mengakibatkan pengaruh yang luar biasa terhadap dunia musik. Kebebasan yang dibawa oleh periode Romantik bukan hanya mendefinisikan ulang apa itu musik dan keindahan, tapi juga kehidupan. Dan seperti kuda lepas dari kandang, kebebasan ini akhirnya menjadi kebablasan. Musik dari zaman Renaissance sampai Klasikal adalah musik yang digubah dengan mengetahui batas-batas ekspresi. Seperti yang sudah dibahas, musik Klasikal dibatasi oleh persepsi logika, musik Baroque dilimitasi oleh ilmu harmoni warisan zaman Renaissance, dan musik Renaissance sedikit banyak dilimitasi berdasarkan hubungan numeral. Bach dalam St. Matthew Passion telah menuliskan satu melodi yang begitu menyayat hati, yaitu ketika Petrus menyesal setelah ia menyangkal Tuhannya kali ketiga. Tapi sewaktu kita mendengarnya tentu tidak seperti mendengar orang yang menangis meraung-raung yang sudah pasti tidak akan terdengar musikal sama sekali. Dalam musik Baroque, tangisan pun mempunyai melodi yang mengikuti aturan musik. Namun atas nama ekspresi, gerakan Romantik tidak mau berhenti sampai di sini. Pada akhirnya, musik Romantik hancur di bawah beratnya sendiri. Sebagai contoh adalah Richard Strauss dan operanya Salome, yaitu kisah ketika Yohanes Pembaptis dipenggal oleh Herodes untuk memenuhi permintaan anaknya (dinamakan Salome dalam opera ini) yang telah menari untuknya. Dalam adegan Salome mencium kepala Yohanes Pembaptis yang sudah terpenggal, Strauss menggunakan chord yang berisi 10 not berbeda untuk mengekspresikan suasana yang begitu menjijikan. Dalam tradisi harmoni musik Eropa, chord yang lengkap hanya dapat berisi 3 not yang berbeda. Chord extension seperti seventh chord berisikan 4 dan memerlukan resolusi ke chord yang lebih stabil, menurut ilmu harmoni. Bisa dibayangkan betapa ngerinya bunyi 10 not yang berbeda ketika dibunyikan bersamaan dan tanpa resolusi. Strauss sendiri membela keputusannya untuk menuliskan musik yang sedemikian disonans karena menurutnya tidak ada chord normal yang mampu menggambarkan kengerian yang ingin ia tampilkan, maka ia membuat “musik” yang tidak lagi menuruti prinsip dasar musik itu sendiri. Perkembangan ini tidak mungkin bertahan lama sebelum hancur, seperti bangunan yang mau dibangun tanpa memiliki fondasi, atau seperti ikan yang merasa dibatasi oleh air.

view3.jpg
Friedrich – The Wanderer Above The Sea of Fog

Pada akhirnya, Romanticism yang mengkritik gerakan Klasikal sebagai gerakan yang sempit karena mengutamakan rasio, telah jatuh ke ekstrim yang lain: menjadi gerakan yang irasional. Komponis-komponis berikutnya meneruskan semangat ekspresi gila-gilaan ini, dan pada akhirnya ilmu harmoni ditolak secara total, masuk ke dalam zaman musik atonal5 dan periode Modern yang kacau. Tidak semua musik Romantik sedemikian ekstrim tentunya, khususnya karya-karya yang digubah pada pertengahan pertama abad ke-19 masih mempunyai keseimbangan antara ekspresi emosi dan aturan musik, khususnya oleh komponis-komponis yang cenderung old-fashioned seperti Johannes Brahms, Felix Mendelssohn, Robert Schumann, dan lain-lain. Mendelssohn, khususnya, sebagai seorang Kristen yang takut akan Tuhan mempunyai banyak karya yang sangat indah, dan sesuai dengan semangat Romantik karyanya mempunyai kekuatan dramatis dan emosional yang sangat dalam tapi tanpa kehilangan keteraturan. Dua oratorionya, St. Paul dan Elijah adalah beberapa karya teragung sepanjang zaman. Sayangnya, selain Mendelssohn boleh dibilang tidak ada komponis besar Kristen lainnya, dan kemerosotan moral pada abad ke-19 telah mengakibatkan banyak karya-karya musik zaman Romantik berkisar pada tema-tema yang sangat tidak Alkitabiah. Symphony terakhir Tchaikovsky yang dielu-elukan sebagai karya terbaiknya, menurut adiknya, Modest Tchaikovsky, adalah ekspresi kefrustrasian Tchaikovsky terhadap dunia yang menyerang homoseksualitasnya. Bukan hanya karya non-Alkitabiah, akhirnya karya-karya yang didasarkan pada cerita Alkitab pun hasil akhirnya sama sekali tidak Alkitabiah karena tidak setia kepada prinsip Alkitab. Sebagai contoh, opera Salome tadi mengambil kisah Alkitab tetapi kemudian menceritakan kembali dengan mindset Romantik yang sama sekali tidak tertarik untuk memperjuangkan kebenaran Alkitab atau untuk memuliakan Allah; adegan yang menjadi hidangan utama malah adalah tarian Salome yang dinamakan Dance of the Seven Veils, di mana soprano yang memerankan Salome harus turun derajat menjadi stripper dan berakhir dengan kematian Yohanes Pembaptis, serta Salome yang akhirnya dieksekusi ayahnya sendiri. Tidak berarti musik atau seni yang baik adalah seni yang tidak realistis, yang tidak mengenal rasa frustrasi atau ketidaksusilaan. Kitab Mazmur pun dipenuhi dengan berbagai keluhan dan seringkali mengungkapkan kehidupan manusia yang dipenuhi dengan sengsara. St. Matthew Passion dari Bach juga tidak dipenuhi kebahagiaan atau keindahan, tetapi seperti di dalam Alkitab selalu ada resolusi. Kitab Mazmur yang meskipun dimulai dengan keluh kesah, selalu diakhiri dengan pengharapan dan iman kepada Tuhan. Maka seni yang baik adalah seni yang mengembalikan kondisi yang rusak kepada kondisi yang Righteous. Righteousness dalam seni bukan berarti segala sesuatu harus tanpa dosa, sebab hal ini pasti berlawanan dengan realita. Menjadi Righteous mempunyai arti membenarkan, membuat apa yang kacau menjadi harmonis. Sebab Allah kita bukanlah Allah yang menghendaki kekacauan, tetapi damai sejahtera. Kiranya tulisan ini boleh membawa kita mengerti kelebihan dan kekurangan musik yang menjadi warisan kita, dan boleh membantu kita dalam menggunakannya untuk kemuliaan Tuhan. Soli Deo Gloria.

Jethro Rachmadi,

(Pemuda MRII Melbourne) Mahasiswa Bachelor of Music di University of Melbourne

Endnotes:

1. Arnold Whitall, Romanticism. (London: Thames and Hudson, 1987) 9

2. Kromatisasi adalah pergerakan not naik atau turun dengan beda setengah, misalnya 1,1/2, 2/ 3 dalam not angka.

3. Beethoven adalah komponis yang lahir dan memulai karirnya dengan musik Klasik, namun pada masa pertengahan hidupnya gaya komposisinya telah berubah menjadi musik Romantik.

4. Misalnya, pada zaman sekarang anak kecil sering ditanya, “Mau jadi apa kalau sudah besar?”

5. Atonal = tanpa tonalitas. Kalau Saudara mendengar musik ini, tidak akan tahu musik itu dimainkan secara benar atau salah karena semuanya terdengar tanpa harmoni.