Tabernacle Choir performance

I. PENDAHULUAN

Nyanyian baik dalam bentuk pujian maupun penyembahan menempati posisi yang sangat penting dalam kehidupan dan ibadah umat Kristen pada saat ini. Pada gereja-gereja di abad pertengahan, puji-pujian dalam ibadah mendapat porsi yang kecil, tetapi dalam perkembangannya puji-pujian mendapat porsi yang makin besar dalam sebuah ibadah. Bahkan saat ini banyak muncul fenomena ?konser musik rohani? dimana pujian penyembahan merupakan inti dari acara secara keseluruhan. Dalam kehidupan sehari-hari, kitapun sering mendengarkan album-album rohani yang banyak diproduksi oleh artis-artis Kristen. Pada akhirnya pengertian nyanyian tidak terbatas dalam pujian yang dinyanyikan secara bersama dalam jemaat, tetapi juga puji-pujian yang disampaikan secara individual (solo) dan kelompok (vocal group & paduan suara).

Dengan munculnya nyanyian pujian dalam bentuk-bentuk di atas, para penyanyi terkadang mengabaikan banyak faktor penting dalam membawakan sebuah lagu. Kenyataannya, banyak lagu yang pesannya tidak sampai kepada pendengar karena lagu tersebut dibawakan tanpa penjiwaan, ekpresi dan interpretasi. Maka penting untuk kita sungguh-sungguh mengerti, bagaimana sikap kita dalam menyanyi dan memuji Tuhan baik secara individual maupun kelompok.

II. PERFORMANCE

Ketika seorang penyanyi akan membawakan sebuah lagu, maka ia harus memperhatikan setiap unsur yang bisa mendukung penampilannya. Dengan penampilan yang baik seorang penyanyi dapat menampilkan performance yang utuh dan maksimal. Performance merupakan suatu bentuk presentasi yang utuh dari kesatuan/sinergi antara aspek jasmani, jiwani dan rohani seseorang terhadap sesuatu yang sedang dilakukan. Berdasarkan pengertian di atas, keutuhan yang dimaksud meliputi aspek-aspek berikut ini:

1. Aspek Jasmani

a.Suara/vokal ? merupakan modal utama dari seorang penyanyi. Perlu dikembangkan secara terus menerus baik dari segi teknik maupun improvisasinya. Juga penting bagi seorang penyanyi untuk mengenali jenis suaranya sehingga memudahkan untuk memilih lagu yang pas dengan karakter suaranya sehingga terjadi perpaduan apik.

b.Ekspresi, Gaya dan bahasa tubuh ?Seorang penyanyi yang tampil didepan audience tidak bisa berpusat pada dirinya sendiri maksudnya menikmati pujian itu sendiri. Harus ada komunikasi dengan audience. sehingga setiap kata dan nada dalam lagu dapat dinikmati audience bahkan mereka bisa ikut larut dalam pujian kita dan menikmati puji ? pujian itu. Hal ini disebabkan pujian yang disampaikan telah menyentuh bagian sensitif dari audience, yakni pikiran dan perasaannya yang dibangkitkan atau disadarkan mengenai isi dari lagu tersebut. Bentuk komunikasinya berupa gaya, ekspresi dan bahasa tubuh. Unsur-unsur tersebut akan membantu kita menyampaikan isi/pesan dari lagu yang kita bawakan.

c.Kerapian dalam penampilan ? (Well groomed), merupakan faktor pendukung yang sangat penting bagi seorang penyanyi. Kerapian disini meliputi top to toe ? dari rambut sampai kaki. Bagian ini penting untuk diperhatikan karena ketika seorang penyanyi naik panggung, audience akan memperhatikan penampilannya.

2. Aspek Jiwani

a.Kepercayaan diri ? Bagi seorang penyanyi diperlukan rasa percaya/keyakinan diri. Tanpa kepercayaan diri, maka seorang penyanyi dapat kehilangan kontrol pada saat menyanyi. Kepercayaan diri dapat dibangun dari persiapan yang matang, pengalaman dan penguasaan lagu.

b.Penjiwaan – Raja Daud dalam mazmur sering mengatakan ?Jiwaku memuliakan Tuhan?. Seorang penyanyi harus dapat menyanyi dengan menjiwai lagu yang dibawakan, penjiwaan dapat timbul jika penyanyi telah menghayati lagu tersebut. Sebelum lagu tersebut disampaikan kepada audience, seharusnya lagu tersebut telah menjadi berkat bagi penyanyi itu sendiri.

c.Interpretasi lagu ? penyanyi harus mampu menterjemahkan isi lagu tersebut sehingga dapat membawakannya dengan memberikan penekanan dengan memperhatikan dinamika pada bagian-bagian tertentu dari keseluruhan lagu.

3. Aspek Rohani

a.Kelahiran baru, kekudusan hidup dan urapan Allah. Tiga hal ini mutlak dialami oleh seorang pemuji. Paulus memuji Tuhan dengan roh dan akal budinya (I Kor. 14:15), jadi seorang pemuji tidak dapat menyembah Tuhan jika rohnya mati tapi rohnya harus bernyala-nyala (Roma 12:11).

b.Hati yang siap memuji Tuhan (menanggalkan beban/masalah) ? Mzm 51:17-19.

c.Menyanyi dengan memusatkan diri hanya bagi Allah bukan untuk manusia / kepuasan diri sendiri maupun audience (Why 5:12) dan merupakan ungkapan yang tulus dari dasar hati yang paling dalam ? Mzm 138:1.

Ketiga aspek di atas tidak dapat dipisah-pisahkan, karena saling terkait dan mempengaruhi satu sama lain. Jika salah satu aspek diabaikan maka akan terjadi kepincangan atau ketidak seimbangan yang berakibat pesan dari isi pujian tidak sampai kepada audience, dan performance dari penyanyi menjadi kurang baik bahkan buruk. Performance yang bagus merupakan suatu bentuk kesatuan dan keseimbangan dari jasmani, jiwani dan rohani seseorang.

Performance yang baik dari seorang pemuji adalah ketika ia dapat menyatukan dan menyeimbangkan aspek jasmani, jiwani dan rohani

III. WORSHIP
Worship (menyembah) mempunyai arti menempatkan suatu obyek pada posisi tertinggi dari obyek yang lain. Menyembah Allah berarti kita menempatkan posisi kita pada posisi terendah dan Allah pada posisi tertinggi. Penyembahan merupakan salah satu bentuk komunikasi dengan Allah, komunikasi dengan Allah hanya bisa terjadi lewat roh kita dengan Roh Allah melalui pujian yang kita naikkan ke hadirat-Nya.

Ketika kita worship maka hadirat Allah nyata dan urapan-Nya dicurahkan atas seorang pemuji, di mana ia diberikan kuasa, kepercayaan dan wibawa rohani dari Allah. Penyanyi yang diurapi Allah mampu menyampaikan pujian yang berkuasa untuk memulihkan, menjamah, menyembuhkan, dan dapat membawa orang kepada pertobatan.

IV. PENUTUP
Performance kita sebagai pelayan Tuhan harus optimal dengan memperhatikan aspek jasmani, aspek jiwani dan aspek rohani sehingga mampu menyentuh bagian-bagian sensitif audience. Sebuah lagu/pujian tidak akan berarti apa-apa dan hanya akan menjadi lagu tanpa makna jika kita sebagai pemuji tidak tahu dan tidak mampu membawakan dan menyampaikannya kepada audience.
Akhirnya, biarlah menjadi kerinduan kita bersama untuk terus memberi yang terbaik bagi Dia yang layak untuk terima pujian, hormat dan kuasa dari selama-lamanya sampai selama-lamanya dengan terus mengembangkan talenta, potensi dan kreasi kita bagi kemuliaan NamaNya.

Article from: Indonesian Musician-Ministry Community