Musik GEREJA Tradisi taize dan iona 

Pendahuluan

            Setelah Reformasi oleh Martin Luther, perkembangan musik gereja sangatlah pesat. Dapat kita lihat pada abad-abad setelah itu, muncul aliran-aliran seperti : Pietisme, Anglikan, Wesleyan, Revival dan Karismatik. Sebagian besar perkembangan musik gereja dipengaruhi oleh orang-orang Barat. Perkembangan itu ternyata membuat suatu perpecahan antara penganut Kristen. Oleh karena itu muncullah beberapa komunitas yang ingin mempersatukan perpecahan yang telah terjadi. Maka dalam karya tulis ini kami akan menjelaskan beberapa jenis perkembangan musik gereja tersebut.

 

Taizé

Apa itu Taizé ?

            Taize bukanlah suatu istilah yang muncul akibat sekelompok orang yang ingin mendirikan suatu komunitas tertentu. Akan tetapi, Taizé merupakan nama sebuah desa kecil yang terletak di Perancis bagian Timur (dekat dengan kota Cluny). Pada tahun 1940, desa ini menjadi rumah bagi suatu komunitas spiritual yang ekumenis (bersatu). Sekarang ini Taizé adalah sebuah tempat berziarah untuk berdoa, berefleksi, dan tempat untuk mengapresiasikan berbagai macam gaya bernyanyi.[1]

Awal Mula Taizé

            Seperti yang kita tahu bahwa Taizé dibentuk oleh Bruder Roger. Pada saat Perang Dunia II, Bruder Roger meninggalkan Swiss (negara kelahirannya) dan menetap di Burgondia, Perancis (tempat asal ibunya). Sejak saat itu ia bercita-cita membentuk sebuah komunitas biarawan yang mengabdikan diri pada perdamaian.

            Pada suatu hari, Bruder Roger sedang mencari rumah di kota Cluny, dan akhirnya dia menemukan sebuah rumah yang dijual di desa Taizé. Ketika dia bertemu dengan pemilik rumah itu, yang ternyata seorang perempuan tua, ia menceritakan cita-citanya. Lalu perempuan itu mengatakan ,“Tinggalah di sini, kami sangat terpencil.” Bagi Bruder Roger, perkataan tersebut seperti perkataan Allah yang berbicara melalui perempuan tua itu.[2]

            Desa Taizé hanya terletak 2 kilometer dari garis demarkasi yang pada waktu itu membagi Perancis menjadi 2. Di rumah yang dibelinya, ia menyembunyikan pelarian-pelarian politik yang kebanyakan orang Yahudi yang melarikan diri dari penjajahan Nazi, sampai tahun 1942 karena Gestapo menempati tempat itu.

Komunitas Taize

Awalnya, komunitas ini hanya terdiri dari 4 orang (termasuk Bruder Roger). Kemudian pada tahun 1949 komunitas ini bertambah anggotanya menjadi 7 orang, dan mulai saat itu mereka menyatakan untuk hidup membiara selama hidupnya : hidup selibat, penerimaan atas tugas pelayanan dari Prior, hidup sederhana, pemilikan bersama atas barang-barang jasmani dan rohani.[3]

            Ketika jumlah anggota mencapai 12 anggota keluarga, pada tahun 1950, beberapa dari mereka pergi hidup di luar Taizé, untuk menjadi saksi perdamaian di tengah-tengah perpecahan dan hidup bersama dengan para korban kemiskinan. Sekarang ini, keluarga-keluarga tersebut tinggal di daerah-daerah miskin di Amerika Utara, Selatan, Asia, dan Afrika. Mereka hidup dalam keadaan yang sama dengan orang-orang disekelilingnya; mereka mendengarkan orang-orang itu dan mendukung orang-orang yang mencari pemecahan atas masalah-masalah mereka.[4]

            Dari tahun ke tahun komunitas Taizé berambah besar. Pada tahun 1964, orang-orang dari Roma Katolik masuk ke komunitas ini kira-kira 90 orang keluarga. Orang-orang Roma Katolik dan dari berbagai latar belakang Protestan, berasal dari 20 negara.[5]

Tujuan Taizé

            Semula Bruder Roger membangun komunitas Taizé untuk menyelamatkan orang-orang dari pengejaran Nazi. Lama-kelamaan ia melihat perpecahan yang terjadi (antara Roma Katolik dan Protestan), tidak mencerminkan kasih yang diajarkan oleh Injil. Banyak penganut Roma Katolik tidak mau bersama-sama dengan penganut Protestan, dan begitu juga sebaliknya. Oleh karena itu Bruder Roger ingin mengatasi masalah tersebut. Sekarang komunitas Taize dibentuk sebagai karya membangun perdamaian, pendamaian, dan kepercayaan di dunia, baik antar agama, budaya dan sosial.[6]

Musik Taizé

            Pemimpin musik Taizé adalah Jacques Berthier (1923-1994), dia adalah seorang komponis dan organis di gereja St. Ignatius (Paris). Pada tahun 1975, berthier dan kawan-kawannya membuat lagu berdasarkan pola :

         Berulang-ulang

         Frasa musik yang pendek, secara khusus : nyanyian respon, kanon, rangkaian doa-doa, dan chant (nyanyian yang mudah dan pendek), yang memiliki melodi yang mudah diingat.[7]

Liturgi Taizé

            Liturgi Taizé adalah ucapan sekaligus musik pada waktu yang bersamaan “Tidak ada yang lebih nyaman untuk berkomuni dengan orang yang tinggal dengan Allah dengan cara doa yang meditatif, bernyanyi terus-menerus tanpa akhir, dan berlangsung dengan kesunyian yang menyatukan hati.”(Taizé, 1990)

 Elemen-elemen yang digunakan dalam pelayanan ibadah Taizé :[8]

ü       Mazmur-mazmur : Introitus – pembacaan Mazmur.

ü       Pembacaan            : Perjanjian Lama; Injil; Surat-surat; bacaan pendek.

ü       Lagu                      : Respon; himne.

ü       Doa                       : Syafaat; persembahan; doa bebas; berkat.

Kegiatan-kegiatan Taizé

Setiap hari mereka berkumpul untuk berdoa bersama sebanyak 3 kali sehari. Pada petang hari, diadakan nyanyian dan doa, setelah itu para saudara tetap tinggal di Gereja untuk mendengarkan mereka yang ingin berbicara tetang masalah pribadi atau bertanya sesuatu.

            Setiap Sabtu malam diadakan doa kebaktian Tuhan, sebuah pesta cahaya.

Pada hari Jumat malam, Gereja terbuka untuk siapa saja yang ingin berdoa, di tengah gereja terdapat patung salib yang besar. Orang yang datang untuk berdoa, duduk di sekelilingnya dalam keheningan sebagai suatu cara berserah diri kepada Tuhan.[9]

 

Iona

Apa itu Iona?

            Sama halnya dengan Taizé, dahulu Iona bukanlah sebutan bagi orang-orang tertentu, melainkan sebuah nama pulau di pantai Barat Scotlandia sampai Barat Mull Rosa. Pulau ini kira-kira 3 mil panjangnya dari Utara ke Selatan dan kira-kira 1 ½ mil lebarnya dari titik terluar. Sekarang Iona merupakan suatu komunitas untuk beribadah, musik gereja Iona memiliki corak dan keunikannya sendiri. Musik gereja Iona bisa menjadi suatu kesan tersendiri.

Sejarah Iona

            Pulau ini sudah banyak didatangi oleh banyak orang sejak St. Colombia mendarat di pulau ini sejak tahun 563 SM. Pulau ini menjadi tempat bagi para peziarah. Tahun-tahun berikutnya menjadi tempat keluar masuk bagi orang-orang. Di pulau ini raja-raja datang untuk mendapat nasihat dan para prajurit untuk beristirahat dan orang-orang muda datang untuk belajar. Sampai sekarang pulau ini masih menyimpan sisa-sisa aktivitas yang terkenal dan terbesar dari St. Johan dan St. Martin, kuburan raja-raja dan sumur-sumur tua.[10]

            Pada abad ke-8 Gereja Roma Katolik menguasai Kaltik, di sana berdiam para peziarah dan orang kudus. Namun, pada masa era reformasi komunitas religius tadi hilang beserta aktivitas religius mereka, maka yang tersisa ialah sisa bangunan biara.

            Komunitas Iona dimulai tahun 1938 di Govan. Pada masa St. Colombia, selama berabad-abad Govan adalah suatu kampung dan daerah kependetaan yang besar dengan expansi (pengembangan) industrialisasi glasgow yang bergantung pada pembuatan kapal. Pada tahun-tahun itu pembuatan kapal dan industri berat lainnya ditimpa oleh depresi. 80 % orang-orang di Govan adalah penganggur-penganggur yang miskin dan ini terjadi selama bertahun-tahun. Tidak ada makanan yang cukup, masa depan anak-anak dan ketrampilan yang dimiliki tidak diperlukan oleh negara. Gereja hanya memperhatikan pada Marturia dan tidak memperhatikan para penganguran. Govan membutuhkan seseorang yang peduli dengan mereka, orang tersebut adalah George Macleod, yang akhirnya mendirikan Iona Community.[11]

George Macleod memiliki perhatian kepada fakta bahwa gereja mengacuhkan para penganggur miskin.[12] Ia datang menjadi Pendeta wilayah di Govan tahun 1930, pada saat depresi terbesar terjadi. Ia menghabiskan 8 tahun untuk memulihkan ibadah, harapan dan membawa manusia menemukan dalam doa sebuah aktivitas yang nyata. Ia melayani para pengangguran. Ia menyediakan pekerjaan bagi mereka. Ia membawa orang-orang dari pulau Iona untuk kembali membangun biara yang berusia 1000 tahun. Pembangunan biara ini menjadi metafor bagi pembangunan kembali dari hidup yang penuh depresi. Sebuah pengembalian kepada kepercayaan bahwa aktivitas sehari-hari adalah bahan bagi pelayanan ke-Allah-an dan ibadah.

 

Komunitas Iona

George Macleod meninggalkan semua kesuksesan dan mengarahkan diri pada komunitas Iona di Govan. Ia membawa 12 orang muda, setengah dari mereka adalah pengrajin dan seniman, dan sisanya adalah pelayan-pelayan muda dari Gereja Scotlandia, yang baru saja lulus dari pelatihan Teologia. Mereka bersatu membangun sisa-sisa biara dan memulihkan kembali ibadah di Iona pada musim panas. Sekarang komunitas Iona dipimpin oleh 200 orang yang terdiri dari laki-laki dan perempuan. Orang yang beribadah Iona terdiri dari orang Kristen Protestan dan Roma Katolik.

Komunitas Iona terdiri dari para peziarah yang ada sekarang ini. 95 % komunitas ini adalah orang-orang Inggris yang tinggal dan melayani di tempat-tempat termiskin di Glasgow. 5 % lainnya adalah orang-orang peziarah dari berbagai negara yaitu Amerika Utara sampai ke Uganda. Setiap tahun mereka datang dan tinggal untuk beberapa waktu. Kemudian pulang dan menjadi misionaris ke berbagai tempat atau orang biasa dengan misi mewartakan Kristus.[13]

Keadaan Sosial

            Pulau Iona pada tahun1930-an merupakan tempat bagi industri pembuatan kapal. Pada saat itu juga adalah masa-masa peperangan. Masa perang juga membawa dampak bagi industri Iona dan masa depresi di Iona.[14] Tahun-tahun selanjutnya masyarakat Iona hidup miskin, memelihara domba-domba, mereka juga membuat kerajinan dari jerami dan membuka toko-toko dan masih tetap seperti itu hingga hari ini. Menjadi sebuah desa yang memiliki atmosfir religius tersendiri.[15]

Ibadah dan Teologi

Tiap hari komunitas Iona secara rutin melaksanakan ibadah, dan setiap kali beribadah tema dan tujuan ibadah berbeda. Di dalam ibadah juga ditampilkan pokok-pokok dua misi, budaya salah satu etnik atau memakai tata ibadah yang bercorak etnik.[16] Ibadah komunitas Iona bersifat ekumenikal. Tema-tema ibadah mereka menyatakan pandangan teologis yang mereka pegang yaitu menekankan pada berbagai tindakan pelayanan yang nyata, kepada orang-orang tertekan dan tertindas. Pandangan mereka ini menyebabkan pola-pola pelayanan Yesus menjadi bagian dari ciri hidup komunitas Iona. Tujuan dari ibadah komunitas Iona adalah juga untuk mengembangkan spiritualitas dan keluar untuk menyatakan Kristus.

Musik Iona

            Menurut komunitas Iona Angsa Liar atau Wild Goose Iona’s Community, Minggu Kudus, Paska dan masa Paska ditandai oleh suatu seri perkembangan. Oleh karena itu komunitas Iona terus mengembangkan lagu-lagunya. Sekarang komunitas Iona sudah menghasilkan 150 lagu dan nyanyian gereja dan respon-respon yang menggambarkan spiritualitas Celtic. Semua judul-judul lagu diciptakan oleh John Bell dan Graham Maule. Buku nyanyian komunitas Iona Angsa Liar (mereka mengambil angsa liar sebagai simbol Roh Kudus) :

ü       Heaven Shall Not Wait, Wild Goose Songs Vol. 1’(1987-1989).

ü       Enemy of Apathy, Wild Goose Songs Vol. 2’(1988, 1989).

ü       Love from Below’ (1989).

Untuk membuka diri, komunitas Iona memakai ekspresi-ekspresi devisional berbudaya dari seluruh dunia. Koleksi lagu-lagu dari Amerika Latin, Afrika, Oriental dan lain-lain, misalnya :

ü       Many and great : Songs of the World Chruch Vol.1’(Glasgow : Wild Goose Publications, 1990)

ü       Sent by the Lord : Songs of the Worl Church Vol. 2’(1991)

Ada seseorang yang bernama Tom Colvin, yang menciptakan beberapa lagu untuk komunitas Iona. Ia seorang Pendeta dari salah satu gereja di Scotlandia dan gereja reformasi yang satu di Britania Besar sebagai misionaris di Afrika. Colvin membesarkan hati untuk membuat lagu dari suku dimana ia melayani. Sebagai anggota dari komunitas Iona, ia mengumpulkan dan mempublikasikan himne Afrika ini ke dalam 2 buku :

ü       Free to Serve (1968)

ü       Leap, My Soul (1976)

 

Negro Spiritual / Afro-America

            Negro Spiritual / Afro Afrika merupakan sebuah komunitas yang memuji Tuhan dengan cara yang khas, yaitu dengan nyanyian dan tarian. Awalnya mereka adalah para budak dari Afrika yang dibawa ke Amerika. Mereka yang adalah orang-orang kulit Hitam memiliki karakter musik yang unik dan berbeda dari orang-orang kulit Putih. Bagi mereka musik merupakan bagian yang penting. Musik dapat menceritakan sejarah hidup mereka yang disampaikan lewat syair dari nyanyiannya.

Sejarah dan Tujuan

            Pada tahun 1563 orang-orang Afrika dibawa oleh Sir John Hawkins untuk dijadikan budak di Amerika.[17] Dalam perjalanan orang-orang ini membuat nyanyian yang berisi ratapan dan kesedihan yang mendalam. Seperti yang telah kita ketahui, musik dan nyanyian bagi mereka (orang kulit Hitam / Afrika) merupakan sarana dalam menceritakan perjalanan hidup mereka. Di Amerika mereka melakukan ibadah dan bernyanyi bersama dengan orang-orang kulit Putih di kamp pertemuan. Lagu yang mereka nyanyikan adalah himne Inggris. Akibatnya, banyak kata-katanya yang diinterpretasikan dalam dialek Afrika dan dikombinasikan dengan elemen-elemen musik dari kebudayaan Afrika. Akibat perbedaan gaya musik, maka orang-orang Afrika membuat lagu yang lebih energik dibandingkan dengan musik orang-orang kulit Putih.

            Tujuan dari Negro Spiritual ini adalah meningkatkan spiritual mereka yang diekspresikan lewat nyanyian dan tarian sebagai penyembahan kepada Tuhan. Mereka memuji Tuhan sambil bersaksi tentang kehidupan mereka yang sebagai budak. Lagu-lagu ratapan ini berdasarkan pada Mazmur 96 : 1-4.[18]

Pencetus dan Komunitas

            Keberadaan komunitas ini didasarkan pada kesamaan hidup mereka sebagai budak. Budak-budak ini membuat lagu berdasarkan kenyataan hidup dan akar persoalannya karena perbedaan antara musik mereka dengan musik orang-orang kulit Putih. Sehingga dapat dikatakan, yang menyebabkan adanya komunitas ini karena para budak di Amerika. Orang ini terdiri dari orang-orang Afrika yang ada di Amerika.

Ibadah dan teologinya

            Bentuk ibadahnya sangat berbeda dengan bentuk ibadah orang barat. Hal ini dikarenakan orang-orang kulit putih memiliki karakteristik tersendiri. Menurut Henry Mitchell ada 2 karakteristik religi orang-orang kulit Hitam :

ü       Budaya unik dari bangsa kulit Hitam, yaitu bebas berekspresi baik di mimbar (Pendeta) maupun jemaat.

ü       Berhubungan dengan bentuk penyembahan, henry Mitchell menamainya “ritual yang bebas”. Kebebasan ditemukan dalam musik penyembahan orang-orang kulit Hitam. Gereja orang-orang kulit Hitam membuat improvisasi dalam melodi musiknya.[19]

Tidak seperti budaya Barat, budaya Afrika tidak memisahkan antara musik duniawi dan rohani. Musik yang digunakan / dibuat adalah musik yang menceritakan sejarah kehidupan mereka.

Mereka menyanyi dengan gaya tersendiri, gaya menyanyi mereka khas yaitu faselto, teriakan-teriakan / sorak-sorai dan guttural tones (suara dari tenggorokan). Instrumen musik yang mereka gunakan adalah Drum, Rhytm Stick, Banjo, Bow, Panpipe dan Balafo. Contoh lagu-lagunya adalah Uya I Mose, Rea Mole Boga, Siya Hamba, dll.

Teologi dan Negro Spiritual setuju dengan bagaimana mereka melihat Allah, dunia dan orang lain dari segi positif. Teologi mereka yaitu teologi pembebasan berdasarkan keluaran. Kitab-kitab yang sering mereka baca, yaitu kitab Musa, Daniel dan Wahyu.

Orang menikmati ibadah ini karena mereka mengekspresikan diri untuk memuji Tuhan, dan lagu-lagu ini mengandung sejarah / pengalaman hidup mereka.

Situasi politik dan Budaya

Situasi sosial yang mempengaruhi, sehingga muncul aliran ini, yaitukeberadaan orang Negro sebagai budak. Mereka menderita dan terus menatap kepada Allah. Satu-satunya bentuk ekspresi mereka adalah membuat nyanyian, sehingga terbentuklah sebuah komunitas yang menghasilkan aliran Negro Spiritual ini.

Orang-orang Afrika berada di bawah pemerintahan Amerika. Mereka adalah budak, namun mereka memiliki warna kulit dan budaya yang sangat berbeda dengan orang Amerika. Sehingga, mereka mengadopsi lagu-lagu dari himne Inggris ke dalam budaya mereka. Budaya yang menempatkan musik pada posisi yang penting.[20]

 

Kesimpulan

            Dapat disimpulkan perkembangan musik-musik gereja yang baru saja dijelaskan, disebabkan oleh beberapa orang yang merasakan perpecahan yang terjadi di kalangan Kristen. Perpecahan itu makin lama membuat Injil tidak nyata dalam kehidupan sehari-hari. Timbulah perasaan ingin bersatu dengan damai oleh beberapa komunitas tertentu. Dasar pembentukan komunitas tersebut adalah teologi pembebasan, maksudnya dengan perpecahan yang ada komunitas itu tidak ingin ada yang terbelenggu oleh batas-batas yang tidak masuk akal.

            Musik gereja global ini merupakan ungkapan hati seseorang, semua orang bisa mengikuti ibadah ini dengan semaunya. Ibadah ini bebas berekspresi, ada yang menginginkan ketenangan datang ke Taize atau ke Iona, yang ingin melampiaskan kenergikannya bisa mengikuti Negro-Spiritual. Tiap orang bisa bebas datang dan pergi kapan saja, sesuai kehendak hatinya.

            Jenis musik yang dipakai sesuai dengan kebudayaan yang ada pada saat itu. Perkembangan musik-musik mereka terus berkembang.

 

Paper Kelompok Musik Gereja Global,

disusun oleh Aleta Ruimasa, Juandi Ambarita, Karmelia Tamonob, Timothy Setiawan dan Troitje Patricia Sapakoli

Mata Kuliah Musik Gereja 2004/2005, Sekolah Tinggi Teologi Jakarta

 

Daftar Pustaka

Balado, J.L.G.1981.The Story of Taize.Mowbray London & Oxford.

Bell, John dan Graham Maule.1990.Iona Community:Enemy of Apathy.U.S.A : GIA Publications, Inc.

Loh, I-to.1986.African Songs of Worship.Jenewa : Sub-unit of Renewal and Congregational Life World Council of Churches.

Morton, T. Ralph.1959.The Iona Community Story.London : Lutterwotrh Press.

Roger, Bruder.1997.Sumber-sumber Taize : Tiada Kasih yang Lebih Agung.Jakarta : BPK Gunung Mulia dan Yogyakarta : Kanisius

Webber, Robert E..Music and the arts of Christian Worship.Tennessee : Hendrickson Publishers.

Worship-Reformed, No. 62, edisi Desember 2001.Learning from Iona.

www.smithcreekmusic.com/Hymnology/Historical.Periodical.html



[2] Bruder Roger.Sumber-sumber Taize : Tiada Kasih yang Lebih Agung. h. 95-96.

[3] Ibid., h. 96.

[5] Bruder Roger. Op. Cit. h. 97.

[6] J. L. G. Balado.The Story of Taize. h. 29.

[8] idem

[9] Bruder Roger, Op.Cit., h. 101.

[10] T. Ralph Morton. The Iona Community Story. h. 7.

[11] Ibid., h. 13.

[12] Worship-Reformed Church, Learning From Iona Community.

[13] Ibid., h. 30.

[14] T. Ralph Morton. Op.Cit.,. h. 7.

[15] Worship-Reformed Church, Op.Cit., h. 30-31.

[16] Ibid., h.31.

[17] Robert E. Webber.Music and the arts of Christian Worship. h. 241

[18] I-to loh. Ed. African Songs of Worship. h. i-ii.

[19] Robert E. Webber.Music and the arts of Christian Worship. h. 130