F

ungsi pemusik gereja di banyak gereja protestan di Indonesia bisa dibilang belum banyak dikenal. Fungsi tersebut biasanya diisi oleh mereka yang kebetulan punya hobby bermusik dan kebetulan bisa sedikit-sedikit main organ atau piano, atau kebetulan berani untuk memimpin paduan suara atau vocal group. Janganlah bingung jika banyak orang yang berpendapat bahwa lagu-lagu jemaat yang dinyanyikan di dalam ibadah gereja konvensional sangat membosankan, berat dan “kuno”.

 

Artikel pendek ini sekedar menarik perhatian kita semua bahwa sudah tiba saatnya bagi kita di Indonesia untuk memiliki tenaga pemusik gereja yang profesional. Tenaga pemusik gereja yang benar-benar dididik dan dilatih untuk berfungsi penuh sebagai pemusik gereja dan bukan sekedar mengisi waktu luang. Banyak gereja yang merasa bahwa hal itu tidak perlu karena sudah selayaknya penyelenggaraan musik gereja itu cukup dengan yang namanya ”pelayanan” saja. Sebagai seorang pemusik gereja yang memang belajar dan dididik untuk menjadi tenaga ahli, penulis keberatan dengan pandangan umum yang berlaku di sebagian besar gereja protestan di Indonesia ini. Di samping seorang pemusik gereja, kita juga memerlukan paduan suara yang benar-benar berfungsi secara maksimal di dalam ibadah dan tidak sekedar menyanyi asal bunyi saja.

 

Jika kita ingin ibadah yang dinamis, ekspresif dan penuh peran serta secara sadar dan aktif dari jemaat, maka kita harus membereskan hal yang paling essensial, yaitu liturgi. Liturgi atau ibadah sendiri, adalah hal yang integral dengan musik gereja. Harapan penulis yang terutama adalah pihak gereja sadar bahwa fungsi tersebut penting. Pemusik gereja haruslah orang yang bertanggungjawab penuh dalam penyelenggaraan musik di dalam ibadah, bekerja sama dengan pendeta dan komisi liturgi/musik gereja. Dan untuk menjadi pemusik gereja, semuanya itu haruslah dipelajari, dididik dan dilatih.

 

Ada beberapa hal yang akan dipaparkan di dalam artikel ini. Di bagian awal, kita akan melihat tradisi Yahudi di masa Perjanjian Lama sebagai dasar bahwa fungsi pemusik dalam ibadah itu memang benar ada dan bukan merupakan hal yang baru. Setelah itu kita akan melihat apa saja tugas dan tanggung jawab seorang pemusik gereja dan apakah fungsi utama paduan suara. Hal ketiga adalah beberapa argumen yang berusaha memperjelas mengapa sudah tiba saatnya bagi kita di Indonesia untuk memiliki fungsi pemusik gereja. Artikel ini diakhiri dengan penutup mengenai penyelenggaraan ibadah yang membangkitkan peran serta aktif jemaat yang didukung dengan penyelenggaraan musik gereja yang baik dan benar.

Masa Perjanjian Lama

Ibadah yang kita kenal dan laksanakan pada saat ini berakar di dalam ibadah orang Yahudi dari Masa Perjanjian Lama. Ada beberapa petunjuk dari Alkitab yang menjelaskan bahwa dari masa pemerintahan Raja Daud, fungsi pemusik di dalam ibadah telah ada.

 

Di dalam I Tawarikh 25: 1 dijelaskan mengenai pengangkatan para pemusik ibadah yang bertugas untuk bernubuat dengan iringan instrumen:

 

“Selanjutnya untuk ibadah Daud dan para panglima menunjuk anak-anak Asaf, anak-anak Heman dan anak-anak Yedutun. Mereka bernubuat dengan diiringi kecapi, gambus dan ceracap.”

 

Di samping itu kita juga mengetahui bahwa tenaga pemusik ibadah itu adalah orang-orang yang memang dilatih dan adalah ahli seni, jadi bukan sembarang orang saja. Janganlah lupa, bahwa hanya suku Lewi yang dapat memiliki fungsi di dalam ibadah. Dalam hal ini kita juga dapat melihat bahwa fungsi ini adalah fungsi yang cukup eksklusif karena tidak semua orang dapat memiliki fungsi tersebut. Di dalam I Tawarikh 25:7 tertera:

 

“Jumlah mereka bersama-sama saudara-saudara mereka yang telah dilatih bernyanyi untuk Tuhan – mereka sekalian adalah ahli seni – ada dua ratus delapan puluh delapan orang.”

 

Selanjutnya di awal masa pemerintahan Raja Hizkia, beliau menguduskan kembali rumah Tuhan. Tradisi musik dalam ibadah berjalan kembali seperti yang tertulis di dalam II Tawarikh 29:25-30. Nyanyian dinyanyikan bagi Tuhan dengan iringan alat musik dan nafiri juga dibunyikan sementara korban bakaran dipersembahkan.

 

Tradisi tersebut terus berlanjut hingga masa kini. Di dalam gereja Katolik, para pemusik dilatih dan dididik secara khusus. Malahan setelah Masa Abad Pertengahan hingga sebelum masa Reformasi, penyelenggaraan musik gereja hanya diikuti oleh tenaga ahli saja. Jemaat hanya sekali-sekali mendapat kesempatan untuk turut menyanyikan antifon atau refrein di dalam ibadah perayaan hari besar (jadi tidak setiap hari Minggu). Hal ini tentu saja patut disayangkan tetapi dengan adanya Reformasi oleh Martin Luther di tahun 1517, jemaat mendapat kesempatan untuk berperan serta aktif di dalam ibadah antara lain melalui nyanyian jemaat.

Peranan seorang Pelayan Musik

Apa sebenarnya yang menjadi tugas dan tanggung jawab seorang pemusik gereja? Sebelum menjawab pertanyaan ini, kita haruslah lebih dulu melihat, apa sebenarnya yang dimaksud dengan pemusik gereja.

 

Sama seperti di dalam Alkitab, sebenarnya ada beberapa macam pemusik gereja. Yang dimaksud dengan pemusik gereja di artikel ini adalah seseorang yang memiliki tanggung jawab penuh dalam penyelenggaraan musik gereja di dalam ibadah. Baik dari persiapan hingga hasil akhirnya.

 

Seseorang yang bertanggung jawab atas penyelenggaraan musik di dalam ibadah disebut sebagai Pelayan Musik (Minister of Music) atau dapat juga disebut sebagai Prokantor. Tapi mengingat bahwa pengertian prokantor di Indonesia masih belum merata, penulis cenderung mempergunakan istilah Pelayan Musik.

 

Di dalam ibadah kita ada dua pelayan yang memegang peranan penting, yaitu Pelayan Firman (Minister of the Words) dan Pelayan Musik (Minister of Music). Keduanya adalah rekan sejawat yang menguasai bidangnya masing-masing. Keduanya harus dapat bekerja sama dalam mempersiapkan ibadah dan dalam menyelenggarakan ibadah tersebut.

 

Keadaannya pada saat ini cukup menyedihkan karena banyak pelayan firman yang menganggap bahwa pemusik gereja itu tidak tahu apa-apa. Sebenarnya tidak dapat dipungkiri, pemusik gereja yang profesional hingga saat ini masih amat sedikit. Andaikata ada orang-orang yang pernah mengikuti kursus musik gereja, itu juga belum mencukupi karena pengetahuan mengenai liturgi, hymnologi (sejarah nyanyian jemaat), sejarah musik gereja dan perkembangannya, pengetahuan Alkitab, seni pertunjukan (performance practice), kantorat (cantorship) dan lain-lain, masih amat sangat kurang. Seringkali mereka harus mendapat bantuan dari pihak yang lebih ahli, belum dapat benar-benar mengambil keputusan dalam menghadapi masalah yang dihadapi.

 

Pelayan Musik sebagai orang bertanggung jawab di dalam penyelenggaraan musik gereja dalam ibadah dibantu oleh banyak unsur antara lain paduan suara dan para pemusik. Paduan suara di dalam ibadah memiliki fungsi yang amat penting. Paduan suara tidak sekedar mengisi bagian “luang” di dalam ibadah atau sekedar menyanyi setelah khotbah. Paduan suara haruslah menjadi satu kesatuan dengan jemaat untuk menyampaikan nyanyian pujian dan ratapan kita kepada Tuhan. 

Fungsi paduan suara dalam ibadah

Dari masa Perjanjian Lama hingga kini, paduan suara memegang peranan penting di dalam ibadah jemaat.

 

Di Abad Pertengahan, schola cantorum (kelompok penyanyi) adalah kelompok yang bertugas untuk menyanyikan lagu-lagu yang ada di dalam ibadah.

 

Pada masa Reformasi, Luther menggunakan paduan suara (anak) untuk mengajarkan nyanyian baru kepada jemaat. Calvin bahkan hanya memperkenankan paduan suara untuk mengiringi nyanyian jemaat di gereja.

 

Baik Luther maupun Calvin memandang muziek gereja itu penting demi pertumbuhan iman jemaat.

 

Melalui dokumentasi yang ada kita melihat bahwa paduan suara anak di Geneva yang merupakan bagian dari sekolah, memiliki tugas untuk membentuk dan mendukung nyanyian jemaat. Paduan suara anak tersebut menyanyi mazmur satu suara. Aransemen mazmur lebih digunakan untuk di rumah, bukan untuk di gereja.

 

Calvin membedakan antara nyanyian jemaat, musik paduan suara, permainan orgel dan nyanyian liturgi. Bagi Calvin nyanyian paduan suara di dalam ibadah dapat membuat perhatian orang teralih dari syair hingga orang hanya mendengarkan musiknya saja tanpa memperhatikan pesan yang ada di dalam lagu tersebut. Itu adalah salah satu keberatan Calvin.

 

Luther sebaliknya, banyak memakai musik di dalam ibadah. Musik adalaah ciptaan Tuhan dan itu adalah karunia Tuhan, menurut Luther.

 

Luther menghubungkan musik gereja dengan Pekabaran Injil:

         Kabar Baik itu penuh dengan nyanyian dan permainan musik,

         Iman dan percaya menginginkan kita menyanyi,

         Musik dapat membantu untuk membangkitkan iman.

 

Di dalam ibadah, Luther menggunakan paduan suara untuk mendukung pelaksanaan nyanyian jemaat.

 

Itu adalah tugas dan tanggung jawab paduan suara yang terutama. Bukan sekedar menyanyi untuk “mengisi” ibadah seperti yang sering terjadi pada saat ini.

 

Seringkali paduan suara yang bertugas, tidak mau menjadi kantoria yang bertugas menuntun jemaat dalam menyanyikan nyanyian jemaat. Andaikata ada kantoria, para anggota sebagian besar mengganggap remeh karena hanya menyanyikan satu suara. Padahal justru menyanyi unisono itu amat sulit.

 

Idealnya sebuah kantoria menyanyikan semua nyanyian jemaat yang ada dengan susunan 4 suara, SATB, baik yang sederhana maupun aransemen khusus. Untuk dapat mencapai hal tersebut, diperlukan pendidikan paduan suara yang progresif hingga tiap anggota dapat menyanyi dengan mandiri tanpa harus “nebeng” kiri-kanan.

 

Jika nyanyian jemaat dapat dilagukan dengan baik dan benar, penuh semangat, maka dengan sendiri ibadah kita akan lebih hidup dan berarti. Ingatlah bahwa seringkali kita lebih mengingat musik yang dinyanyikan di dalam satu ibadah, dibandingkan dengan hal-hal lain.

 

Ada banyak hal yang harus diperhatikan di dalam pelayanan kita sebagai kantoria. Yang terpenting adalah persiapan kita untuk menyanyikan lagu-lagu jemaat haruslah matang. Jangan sampai kita tidak tahu pasti bagaimana cara menyanyikan lagu-lagu tersebut. Hingga jemaat tidaklah terganggu ketika beribadah, dengan terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan.

 

Hal yang juga harus diperhatikan adalah fungsi paduan suara di dalam ibadah adalah sebagai salah satu unsur ibadah. Tidak ada unsur pertunjukan sama sekali jika paduan suara tersebut berfungsi di dalam ibadah. Karena lagu yang dinyanyikan adalah satu kesatuan dalam keseluruhan ibadah dan bukan merupakan konser. Itu sebabnya, jika kita ingin menyampaikan apresiasi kita kepada paduan suara tersebut karena telah menyentuh hati kita, sebaiknya ucapan terima kasih dan pujian tersebut disampaikan setelah ibadah selesai melalui kata-kata yang tulus dan bukan dengan tepukan tangan di tengah ibadah.

 

Ingatlah, hanya TUHANlah yang menjadi pusat perhatian kita di dalam ibadah. Kita beribadah di hadapan Tuhan, kepada Tuhan, untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Hanya DIA-lah yang layak menjadi pusat perhatian.

 

Bukan berarti kita tidak boleh menghargai paduan suara yang menyanyi tetapi kita harus dapat membedakan dan menempatkan diri, sebagai apa fungsi paduan suara tersebut pada saat itu. Jika kita sedang berada di malam pentas seni, tentu sudah selayaknya kita menunjukkan apresiasi kita melalui tepuk tangan kita namun di dalam ibadah, pusat perhatian kita hanyalah untuk Tuhan kita.

 

Penutup

Martin Luther menginginkan peran serta jemaat secara sadar dan aktif di dalam ibadah. Bukan sekedar menjadi penonton dari kaum rohaniwan yang merayakan perayaan ekaristi dan tidak dapat datang sendiri ke hadirat Allah. Sebagai umat percaya kita diberi kesempatan untuk mengekspresikan syukur kita atas karya keselamatan Allah melalui Putera Tunggal-Nya, Yesus Kristus.

 

Ibadah yang ada saat ini dapat menjadi lebih hidup jika jemaat disegarkan kembali dengan esensi ibadah tersebut, yaitu pengucapan syukur dan bakti kita pada Allah Bapa di sorga. Perayaan yang dirayakan,haruslah dengan penuh suka cita dan bukan sekedar formalitas menyanyikan nyanyian jemaat dan membaca beberapa bagian Alkita serta mendengar Pemberitaan Firman. Ibadah adalah perayaan. Semua dapat berperan serta aktif.

 

Ibadah harus dipersiapkan. Semua telah memiliki tugas masing-masing dan semuanya harus saling bekerja sama. Jemaat adalah pemeran utama dalam ibadah, bukan para pelayan atau pemusik. Melalui nyanyian jemaat, jemaat dapat mengekspresikan ungkapan syukur mereka. Di samping itu, melalui nyanyian liturgis, mereka juga dapat menyampaikan doa-doa mereka serta respons mereka atas Firman Allah. Tanpa seorang pemimpin yang dapat menuntun jemaat supaya menyadari betapa pentingnya mereka di dalam ibadah, jemaat tidak akan tahu, apa yang sebenarnya terjadi di dalam ibadah itu.

 

Itu sebabnya pembinaan sangat diperlukan. Ada berbagai macam cara untuk membina jemaat, antara lain melalui musik gereja. Bukan hanya orang dewasa tetapi juga anak-anak, para remaja serta pemuda-pemudi, mereka dapat belajar banyak melalui musik gereja.

 

Seorang Pelayan Musik tidak sekedar bertugas untuk melatih paduan suara atau memainkan organ/piano. Pelayan Musik juga bertanggung jawab atas pembinaan warga jemaat bersama dengan Pelayan Firman. Fungsi tersebut bukan sekedar pelengkap tetapi benar-benar diperlukan di dalam jemaat.

 

Paduan suara yang bertugas juga bukan sekedar mempertunjukkan kemampuan paduan suara tersebut. Namun benar-benar menunjang jemaat dalam menyanyikan nyanyian jemaat. Itulah fungsi utama paduan suara di dalam ibadah kita. Jika ada lagu baru yang belum dikenal, paduan suara dapat mengajak jemaat untuk menyanyikan lagu baru tersebut. 

 

Jalan yang harus ditempuh masih panjang. Kita semua menginginkan yang terbaik bagi Tuhan. Ibadah adalah pesta kita semua. Pesta tersebut akan berhasil dengan sukses jika unsur-unsur yang ada di dalamnya dipersiapkan dengan serius dan sebaik mungkin, termasuk unsur musik gereja. Paduan suara sebagai salah satu unsur penting di dalam penyelenggaraan musik ibadah, harus lah dipersiapkan dengan serius.  Dengan mempersiapkan calon-calon pemusik gereja baik pemain organ, piano, penyanyi maupun dirigen, jemaat dapat dibina untuk bersama memberikan yang terbaik bagi Tuhan. Ibadah kita menjadi dupa yang harum di mata Tuhan.

 

Soli Deo Gloria! 

 

Christina Mandang

Catatan penulis: Ini adalah salah satu paper yang cukup banyak dipakai dalam seminar maupun lokakarya musik gereja. from: http://christinamandang.multiply.com/