Muse with lyre, Paestan red-figure lekanis
C4th B.C., Musée du Louvre.

Bagi para pecinta musik paduan suara kemajuan ilmu pengetahuan telah membuat kita dapat menikmati musik tanpa harus pergi ke gedung-gedung pertunjukkan, sekarang ini banyak rekaman kaset/cd/dvd paduan suara dunia yang dapat kita nikmati baik itu yang bergenre klasik/musica sacra, madrigal, gospel spiritual, maupun hymne dan lain sebagainya. Hal ini tentunya sedikit banyak semakin manambah khazanah perbendaharaan pengetahuan seni musik paduan suara. Mungkin karena begitu seringnya kita berinteraksi dengan musik / vocal yang bersumber dari tekhnologi rekaman, terkadang kita begitu rindu untuk mendengar dan melihat sebuah konser paduan suara secara langsung.

Sebelum kemajuan ilmu pengetahuan itu, orang-orang hanya dapat menikmati musik di panggung gedung-gedung pertunjukan atau tempat-tempat keramaian yang diselenggarakan setahun sekali, misalnya pasar malam. Menikmati musik di gedung pertunjukan atau pasar malam tidaklah dapat dilakukan sembarang waktu. Itu berarti orang tak dapat menikmati musik dalam keadaan santai seperti sekarang.

Benar, musik telah demikian dekat dengan kehidupan manusia saat ini. Agaknya tak seorangpun di antara bangsa merdeka didunia ini, yang menghayati kemajuan ilmu pengetahuan dan kebudayaan, yang luput dari kegiatan musik. Namun tahukah dari mana perkataan musik ini kita terima?

Musik berasal dari bahasa Yunani, Mousai, yakni sembilan dewi yang menguasai seni-seni musik dan ilmu pengetahuan. Kesembilan dewi itu adalah puteri-puteri Zeus dan Onemosyne. Adapun nama-nama dewi itu ialah Clio, Thalia, Melpomene, Terpiscore, Erato, Polyhymnia, Calliope, Urania, dan Euterpe.

Dari sejarah Yunani, musik menduduki tempat istimewa sebagai perwujudan fikiran dan perasaan. Kebudayaan Eropa sepenuhnya bersumber dari kebudayaan Yunani.  Ketika agama Kristen berkembang di Eropa, dasar-dasar ilmu musik orang Yunani itu jugalah yang dikembangkan. Seperti kita ketahui bersama, peranan gereja dan pemuka agama amat besar menentukan kesempurnaan musik. Kemudian, untuk membedakan mana musik yang sifatnya kudus, yaitu musik yang dipakai sebagai bagian tata ibadah dalam gereja, dan mana pula yang bukan kudus, sejarah musik membagi dua jenis musik, yaitu musik gerejawi dan musik duniawi.  Baik musik gerejawi maupun musik duniawi, keduanya mengenal cara permainan melalui alat peraga dan alat suara. Musik dengan alat peraga disebut musik instrumental, dan musik melalui suara manusia, disebut musik vocal. Apabila vocal diiringi dengan instrument, maka iringan itu disebut akompanimen, dan vocal tanpa iringan disebut a capella.

Kalau kita memperhatikan unsur vocal dan unsur instrumental, tahulah kita, yang disebut musik, adalah seni bunyi-bunyi. Ingat, kita tetap harus menggunakan perkataan seni di depan bunyi atau suara. Mungkin kita bertanya, mengapa harus begitu?  Harus kita ketahui, musik bukan sekedar bunyi dan suara saja. Di dalam bunyi dan suara, ada tata tertib mewujudkannya menjadi indah, baik, dan betul, yaitu unsur nada, unsur irama, dan unsur keselarasan. Dalam istilah yang lebih lazim, unsur nada disebut melodi, unsur irama disebut ritme, unsur keselarasan disebut harmoni.

Jadilah dunia ini dipenuhi oleh karya musik yang beragam, bayangkan jika dunia tanpa musik? So mari bernyayi bersama ABBA untuk mengatakan Thank you for the music;

Im nothing special, in fact Im a bit of a bore
If I tell a joke, youve probably heard it before
But I have a talent, a wonderful thing
cause everyone listens when I start to sing
Im so grateful and proud
All I want is to sing it out loud

So I say
Thank you for the music, the songs Im singing
Thanks for all the joy theyre bringing
Who can live without it, I ask in all honesty
What would life be?
Without a song or a dance what are we?
So I say thank you for the music
For giving it to me

 

Dari berbagai sumber:

http://www.forum.kartunet.com/