mercusuarLagu dibawah ini sekalipun sangat sederhana namun sangat kuat dalam melodi dan syairnya sehingga menjadi salah satu favorite saya untuk menyanyikannya secara SATB dalam paduan suara, pernah suatu ketika seorang jemaat menitikkan air mata mendengar lagu ini.

Mercu Suar Kasih Bapa (NKB 206) Judul Asli : “Let the Lower Lights Be Burning” Teks : Philip P.Bliss (1871) Musik : Philip P.Bliss (1871) Alih Bahasa : E.L. Pohan (1917-1993)

1. Mercu suar kasih Bapa memancarkan sinarNya. Namun suluh yang dipantai, kitalah penjaganya.

Ref: Pelihara suluh pantai walau hanya k’lip kelap. Agar tiada orang hilang di lautan yang gelap.

2. Malam dosa sudah turun, ombak dahsyat menyerang. Banyaklah pelaut mengharap sinar suluh yang terang.

3. Peliharalah suluhmu, agar orang yang cemas, yang mencari pelabuhan, dari mara terlepas.

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” (Matius 5:16) “Hendaklah pinggangmu tetap berikat dan pelitamu tetap menyala.” (Lukas 12:35)

Lagu jemaat yang mengajak kita agar tetap bersinar bagi-Nya ini dikarang oleh Philip Paul Bliss (1838-1876), seorang yang dilahirkan di daerah pedesaan di Clearfield County, Pennsylvania Amerika Serikat. Pada mulanya dia meninggalkan rumah untuk bekerja di ladang dan membuat bagian-bagian mebel kayu, namun kemudian dia menjadi guru musik dan menjadi seorang penulis lagu profesional. Pada akhirnya, Bliss bergabung dengan penginjil legendaries D.W. Whittle dan D.L. Moody sebagai direktur musik di pusat pelayanan di Chicago Amerika Serikat.. Kebanyakan lagu-lagu yang Bliss tulis, terinspirasi dari ilustrasi-ilustrasi khotbah. Lagu ”Mercu Suar Kasih Bapa” ini terinspirasi dari cerita yang dibawakan D.L. Moody dalam khotbahnya sebagai berikut. Pada sebuah malam yang gelap, bintang-bintang tertutup awan, badai dan ombak besar menerjang sebuah kapal. Kapal yang terombang ambing itu sedang menuju pelabuhan Cleveland Amerika Serikat. Sambil melihat seberkas cahaya dari mercu suar, sang kapten kapal bertanya pada juru mudi ”Apakah kamu yakin kalau itu adalah Cleveland?”. Si jurumudi menjawab ”Ya, sepertinya itu cahaya dari mercu suar pelabuhan Cleveland”. Namun kapten kapal kembali bertanya ”dimana cahaya garis pantainya, biasanya orang-orang yang tinggal di pantai tetap menyalakan suluhnya sehingga garis pantai akan tampak sebagai garis cahaya tipis yang berkelap-kelip”. Si juru mudi kembali menjawab bahwa garis cahaya itu tidak kelihatan dan kemudian berseru ”Kita harus bisa menemukan pelabuhan itu atau kita akan binasa”. Dengan penuh keyakinan akhirnya sang juru mudi memutar haluan, dan malang tak dapat dihindarkan, kapal itu menabrak batu karang dan tenggelam. Seluruh penumpangnya mati dan tenggelam di laut yang sangat dingin itu. D.L. Moody kemudian menjelaskan bahwa cahaya mercusuar itu adalah perlambang teladan Yesus Kristus yang menjadi panutan banyak orang ketika menghadapi badai hidup. Para jemaat pada saat itu diminta untuk tetap mempertahankan nyala suluhnya. Sehingga meskipun cahayanya kecil, namun jika seluruh orang Kristen tetap bercahaya, maka hal itu akan membawa keselamatan bagi orang-orang yang sedang terombang-ambing dalam pergumulan hidupnya..” Philp P. Bliss akhirnya menuliskan lagu berdasarkan ilustrasi khotbah di atas. Lagu ini pertama kali muncul dalam kumpulan lagu sekolah minggu ”The Charm” yang diterbitkan untuk ”John Curch and Co.” di Cincinnati pada tahun 1871. Bliss dan istrinya meninggal dalam sebuah kecelakaan tragis yaitu terbakarnya kereta api yang mereka tumpangi dekat Ashtabula, Ohio. Pada saat itu mereka sedang dalam perjalanan dari Pennsylvania ke Chicago setelah mengunjungi sanak keluarganya. Pada malam sebelum kecelakaan naas itu Bliss sepertinya sudah menubuatkan kematiannya dan mengatakan ”Saya mungkin tidak akan melewati jalan ini lagi” dan menyanyikan sebuah lagu ” I’m Going Home Tomorrow.” (”Saya akan pulang ke rumah besok”). Sepanjang hidupnya Bliss telah menciptakan lebih dari 60 nyanyian jemaat yang terus dinyanyikan hingga saat ini. Salah satunya adalah lagu ”Mercu Suar Kasih Bapa” lagu yang mengajak agar setiap orang Kristen mengenali peran dan tanggungjawab pribadinya. Mari kita tetap menjaga suluh kita agar tetap menyala, seperti apa yang sudah diteladankan Philip Paul Bliss sepanjang hidupnya sampai kematian menjemputnya.

Sumber: Hymn Of The Week – GKI Serpong http://www.gkiserpong.org/bsd