Poster (compressed)Cappella Victoria Jakarta mempersembahkan Konser Musik Gereja Nyanyian Polifoni Sakra.

Music written for the Sistine Chapel. Giovanni Pierluigi da Palestrina. Missa Papæ Marcelli. Gregorio Allegri Miserere mei, Deus (The Top C Version)

Sabtu, 25 Juli 2009 | Pukul 20.00 WIB
Gereja Katolik Santa Theresia, Jakarta

GRATIS – dengan tanda masuk

Informasi: Riani (0815.920.4114), Siska (021-68664168), Yustina (0815.810.3096),  

Cappella Victoria Jakarta

Didirikan oleh beberapa anak muda dari Paroki St. Theresia pada akhir tahun 2005, Cappella Victoria kemudian berkembang menjadi paduan suara (cappella) yang lebih sering menekuni nyanyian polifoni sakra (sacred polyphony) abad XVI, khususnya karya-karya Giovanni Pierluigi da Palestrina dan Tómas Luis de Victoria.

Sejak tahun 2006, Cappella Victoria secara rutin menyanyikan polifoni sakra dalam perayaan ekaristi di Gereja Katolik St. Theresia dan beberapa Gereja Katolik di Jakarta. Cappella Victoria berharap, melalui suasana yang tercipta dari nyanyian polifoni sakra, umat dapat terbantu dalam beribadat kepada Sang Pencipta.

Selama tiga tahun terakhir, Cappella Victoria terus meperkaya repertoar polifoni sakra hingga kini telah mencapai lebih dari 40 nyanyian; sebagian besar di antaranya merupakan karya dari komposer utama Gereja Katolik, seperti: Palestrina (Missa Papæ Marcelli dan sejumlah motet), Gregorio Allegri (Miserere mei, Deus), Victoria (Feria VI in Parasceve ad Matutinum dan sejumlah motet), serta Domenico Bartolucci (Missa de Angelis dan beberapa madah).

Dengan semboyan “tetap semangat” (adaptasi dari: “estote fortes et pugnate), Cappella Victoria terus menggiatkan anggotanya untuk turut serta dalam menghidupkan kegiatan menggereja di tempat masing-masing, khususnya dalam bidang paduan suara. Saat ini Cappella Victoria beranggotakan 33 orang yang berasal dari 15 paroki di Keuskupan Agung Jakarta.

Nyanyian Polifoni Sakra

Polifoni sakra (sacred polyphony) merupakan sebutan untuk nyanyian gereja yang diciptakan pada jaman renaissance (periode 1450-1600). Umumnya nyanyian polifoni sakra berupa misa (missa) dan motet (motécta), yang biasanya dinyanyikan tanpa iringan alat musik (a cappella). Nyanyian polifoni sakra memiliki lebih dari satu suara (part) – terdiri atas nyanyian pokok (cantus firmus) dan motif imitasinya – di mana setiap suara secara independen bergerak maju secara horisontal menurut interval (“fugal”); berbeda dengan nyanyian homofon, di mana dalam ritme yang sama semua suara bergerak maju bersama secara vertikal menurut akord (“familiar”).

 Nyanyian polifoni sakra lazimnya menggunakan nyanyian pokok (maupun teks) dari nyanyian Gregorian (Gregorian chant), dan disusun menggunakan tangga nada (modus) tertentu  (biasanya menyesuaikan dengan tangga nada nyanyian pokoknya) untuk mengekspresikan suasana nyanyian. Imitasi dekoratif dipasangkan pada nyanyian pokok menggunakan variasi spesies kontrapung (counterpoint), dan dapat bergerak sejajar maupun berlawanan terhadap nyanyian pokok. Pada nyanyian polifoni sakra sering ditambahkan pula aksen (accidentals) maupun variasi nada disonan (dissonance) untuk membuat pergerakan setiap suara makin dinamis. Tekstur musik polifoni sakra disusun lebih menyatu (blend) agar kaya harmoni; berbeda dengan tekstur musik organum – nyanyian yang menjadi awal mula lahirnya nyanyian polifoni – pada jaman medieval (periode sebelum 1450), yang dibuat kontras.

Lazimnya, kombinasi komposisi fugalfamiliar disesuaikan dengan pendek-panjangnya teks nyanyian. Tipe komposisi fugal banyak dijumpai dalam nyanyian yang memiliki teks relatif pendek, misalnya Kyrie, Sanctus, dan Agnus Dei dari Missa Papæ Marcelli (Palestrina); sedangkan tipe komposisi familiar dapat dijumpai pada nyanyian yang memiliki teks relatif panjang, misalnya Glória dan Credo dari Missa Papæ Marcelli (Palestrina).

Selain Palestrina dan Allegri, ada banyak komposer lain yang menciptakan nyanyian polifoni sakra, antara lain: Victoria, Guerrero, Lassus dan Byrd. Mereka merupakan kelompok komposer nyanyian gereja (school) di Roma (Italia), Spanyol, Franco-Flemish dan Inggris. Melalui penggunaan teks dan tangga nada yang seusai, serta variasi teknik kontrapung, mereka menghasilkan banyak nyanyian polifoni sakra yang berbobot. Nyanyian polifoni sakra mencapai puncaknya pada era Palestrina, dan kemudian diteruskan oleh Victoria (1548-1611).

 Missa Papæ Marcelli | Giovanni Pierluigi da Palestrina (1525-1594)

Missa Papæ Marcelli merupakan karya Giovanni Pierluigi da Palestrina yang paling terkenal, yang paling banyak dinyanyikan dan direkam. Missa Papæ Marcelli merupakan karya agung (masterpiece) Palestrina dan kerap dinyanyikan pada saat pelantikan Paus (misalnya pada saat inagurasi Paus Yohanes XXIII dan Paus Paulus VI). Belum lama ini Missa Papæ Marcelli dinyanyikan di hadapan Paus Benedictus XVI dalam suatu acara konser di Kapel Sistina. Missa Papæ Marcelli sering diajarkan sebagai acuan dalam pelajaran stile antico pada polifoni jaman renaissance. Missa Papæ Marcelli digubah pada tahun 1562 untuk menghormati Paus Marcellus II yang memimpin selama tiga minggu pada tahun 1555.

Diperkirakan bahwa latar belakang digubahnya Missa Papæ Marcelli oleh Palestrina adalah adanya kontroversi mengenai “kelayakan” musik polifoni dinyanyikan di Gereja akibat unsur tumpang-tindihnya teks pada musik polifoni. Diyakini bahwa gaya deklamasi pada Missa Papæ Marcelli telah meyakinkan para kardinal bahwa dalam musik polifoni teks nyanyian dapat saja terdengar dengan jelas, dan musik gubahan Palestrina terlalu indah untuk tidak dinyanyikan di Gereja. Selanjutnya diceritakan bahwa para kardinal itu menganjurkan Palestrina untuk terus menggubah dengan gaya seperti itu dan mengajarkan gaya itu kepada murid-muridnya. Berkat Missa Papæ Marcelli, polifoni sakra karya Palestrina diterima menjadi salah satu bentuk musik khas Gereja Katolik Roma, selain tentu saja Gregorian chant (bdk. “Instruction on Sacred Music and Sacred Liturgy” yang diterbitkan oleh Sacred Congregation for Rites pada Pesta St. Pius X tanggal 3 September 1958).

Pada tahun 1607, komposer Agostino Agazzari mengatakan bahwa musik yang lebih kuno-lah yang teksnya relatif membingungkan dan terkesan menggumam. Kesan itu disebabkan karena imitasi yang rumit dan panjang pada musik-musik sebelum era Palestrina (terutama abad XV – jaman early renaissance). Namun Palestrina telah menemukan solusinya dengan membuktikan bahwa kesalahan bukan terletak pada musiknya, namun pada penggubah musik tersebut. Untuk menegaskan teorinya, Palestrina menggubah Missa Papæ Marcelli.

Missa Papæ Marcelli disusun pada tangga nada ionian-myxolidian. Missa ini merupakan gubahan bebas, yang tidak didasari pada sebuah nyanyian pokok (cantus firmus). Walau berkomposisi enam suara, kekuatan penuh dari keenam suara itu hanya muncul pada beberapa bagian untuk menunjukan puncak dari teks dan musikalitas dalam missa ini. Kombinasi suara amat bervariasi di seluruh bagian missa ini. Sebagian missa ini berbentuk homorhytmic layaknya deklamasi dengan penataan kata-kata yang amat presisi (Glória dan Credo), sedangkan bagian dengan teks yang tumpang tindih atau fugal (Kyrie, Sanctus–Benedíctus, Agnus Dei) disusun mengikuti kaidah Palestrina Style sehingga (walau secara matematis amat kompleks) teks missa ini tetap dapat didengar dengan jelas saat dinyanyikan.

 Miserére mei, Deus | Gregorio Allegri (1582-1652)

Miserére mei, Deus merupakan karya agung (masterpiece) Allegri. Disusun pada tangga nada Phrygian (kecuali ayat 20b: Aeolian), Miserére dinyanyikan oleh dua kelompok paduan suara (CCATB-CCAB); masing-masing diselingi kantus resitatif pada saat perpindahan dari/ke kelompok-kelompok tersebut. Kantus resitatif dapat dinyanyikan oleh satu atau beberapa penyanyi pria (biasanya dari kelompok pertama) sebagai cantor. Edisi Miserére yang dipersembahkan adalah “The Top C Version”; walau diklaim bukan merupakan edisi otentik, versi ini yang paling banyak digemari, terutama karena nada C tinggi (top C) yang dinyanyikan oleh suara Cantus pada bagian soli/ensembel. Menurut Pietro Alfieri, karya ini diperkirakan disusun pada tahun 1638 karena di dalamnya terdapat kombinasi ciri late renaissance (abad XVI) dan gaya polychoral (yang berkembang di Venezia pada akhir abad XVI dan menjadi permulaan jaman baroque). Sejak ratusan tahun lalu, Miserere merupakan Mazmur Pertobatan (Psalmus Pœnitentialis) yang lazim dilagukan pada Pekan Suci di lingkungan Kapel Sistina. Teks: Mazmur 51 (Vulgata: 50).

 “Music is not man’s invention, but his heritage from the blessed spirits… Music, because instinct with rhythm and harmony, describes the very being of God… Music can affect for good or ill the body as well as the mind… Nowadays, unfortunately, music does often serve depraved ends.” – Tomás Luis de Victoria

 “I had a dream, the music of Palestrina and Gregory the Great had come back.” – Maestro Domenico Bartolucci

 “The training in singing, to sign in a chorus, is not olny an exercise of external listening and of the voice; it is also training for interior listening, listening with heart, an exercise in training for life and for peace.” – Paus Benedictus XVI

From:“cappella_victoria@yahoo.com” cappella_victoria@yahoo.com

Advertisements